Thursday, 31 March 2016

Amr dan Nahy (Pengertian, Bentuk, Hukum dan Kaidah)

Amr dan Nahy (Pengertian, Bentuk, Hukum dan Kaidah)
Makalah Ushul Fiqh 

Oleh: Yulisa Rosalina (Tarbiyah, PAI-Fiqh) UIN Raden Fatah Palembang


PENDAHULUAN

A.  Latar belakang
Secara etimologi amr berarti perintah. Sedangkan secara terminologi amr adalah lafadz yang menunjukkan tuntutan dari atasan kapada bawahannya utuk mengerjakan suatu pekerjaan. Kalimat amr dalam Al-Qur’an ditandai dengan beberapa macam kalimat diantaranya mengunakan fi’il amr, lam amr, kalimat yang menunjukkan perintah amara, farada, dan perintah dengan kata (ikhbar).
Adapun Nahy secara etimologi  artinya larangan. Sedangkan secara terminologi ialah tuntutan untuk meninggalkan perbuatan dari orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah tingkatannya. Dalam al-qur’an nahy ditandai dengan beberapa bentuk. Ayat hukum dalam al-qur’an dalam menyampaikan ajaran Allah dan begitu juga sunnah Rasulullah ada yang berbentuk amr (perintah) dan ada pula yang berbentuk nahy (larangan). Seperti yang akan dibahas dalam makalah ini.

B.  Rumusan masalah
1.    Apa pengertian  Amr dan Nahy?
2.    Apa saja bentuk-bentuk  Amr dan Nahy?
3.    Adakah hukum-hukum yang mungkin ditunjukkan oleh bentuk Amr dan Nahy?
4.    Apa saja kaidah-kaidah yang berhubungan dengan Amr danNahy?


BAB II
PEMBAHASAN

A.           Amr
1.    Pengertian Amr (Perintah).
Amr menurut bahasa berarti perintah. Sedangkan menurut istilah, amr adalah perbuatan meminta kerja dari yang lebih tinggi tingkatannya kepada yang lebih rendah tingkatannya.[1]
Pengertian amr menurut beberapa ahli
a.    Menurut ulama Ushul fiqh, amr adalah: Sesuatu tuntutan (perintah) untuk melakukan sesuatu dari pihak yang lebih tinggi kedudukannya kepada pihak yang lebih rendah tingkatannya.[2]
b.    Menurut Al-Ghazali memberikan pengertian sebagai berikut : Al-amr itu ialah ucapan atau tuntutan yang secara substansial agar mematuhi perintah dengan mewujudkan apa yang menjadi tuntutanya dalam perbuatan.
Pandangan Al-Ghazali ini memberikan pemahaman bahwa al-amr merupakan perintah yang menuntut untuk dipatuhi sesuai dengan apa yang menjadi kandungan dari perintah tersebut.
c.    Menurut Mustafa al-khind menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan amr, ialah tuntutan untuk berbuat yang datang dari yang lebih tinggi tingkatannya.
Pengertian yang diberikan oleh Mustafa Said al-Khind ini menjelaskan bahwa tuntutan untuk berbuat itu datang dari pemegang otoritas lebih tinggi tingkatannya, yaitu Allah Swt sebagai pembuat hukum.
d.   Menurut Abdul Karim Zaidan bahwa al-amr itu ialah: suatu lafal (ucapan) yang dipakai sebagai tuntutan untuk melakukan perbuatan yang datang dari derajat yang lebih tinggi tingkatannya.[3]
Jadi dapat disimpulkan amr adalah kalimat yang menunjukkan suatu perintah untuk berbuat sesuatu yang datang dari yang lebih tinggi, yaitu Allah swt. Kepada yang lebih rendah, yaitu manusia.
2.    Bentuk-bentuk  al-Amr
Kalimat perintah dalam Al-qur’an ditandai dengan beberapa macam kalimat diantaranya menggunakan fi’il amr, lam amr, kalimat yang menunjukkan perintah amara, farada, dan perintah dengan kata (ikhbar). Berikut beberapa bentuk-bentuk amr, yaitu:
a.    Dengan menggunakan fi’il amr yaitu kata kerja bentuk perintah, seperti dalam firman Allah Swt. Sebagai berikut:

(حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
Artinya:”peliharalah semua shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wustha.   Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'”.                                (Q.s Al -Baqarah: 238)

b.    Kalimat amr menggunakan lam amr, seperti dalam firman Allah Swt. Sebagai berikut.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ ۚ 


Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak          secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu   menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu        menuliskannya dengan benar.....”.(Q.s Al-Baqarah: 282).

c.    Kalimat amr menggunakan kata amara dan farida, seperti dalam firman Allah Swt. Sebagai berikut.
قَدْ فَرَضَ اللَّهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ أَيْمَانِكُمْ ۚ وَاللَّهُ مَوْلَاكُمْ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Artinya:“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian           membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan          Dia Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Q.s At-Tahrim: 2)

d.   Kalimat amr menggunakan kata ikhbar, seperti dalam firman Allah Swt. Sebagai berikut.[4]
فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ ۖ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Artinya:“padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam            Ibrahim; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia;   mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi)     orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa     mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.(Q.s Al-Imran: 97)[5]
3.    Hukum-hukum yang mungkin ditunjukkan oleh bentuk Amr.
a)    Menunjukkan hukum wajib seperti perintah untuk shalat.
b)   Untuk menjelaskan bahwa sesuatu itu boleh dilakukan.
c)    Sebagai anjuran.
d)   Sebagai ejekan dan penghinaan.[6]

4.    Kaidah-kaidah yang berhubungan dengan amr.
Apabila dalam nash (teks) syara’ terdapat salah satu dari bentuk perintah tersebut, maka seperti yang dikemukakan Muhammad Abid Saleh, ada beberapa kaidah yang mungkin bisa diberlakukan, yaitu:
a)    al-ashlu fil amri lil-wujuubi       (الأصل قى الأمر للوجوب), meskipun suatu perintah bisa menunjukkan berbagai pengertian, namun pada dasarnya suatu perintah menunjukkan hukum wajib dilaksanakan kecuali ada indikasi atau dalil yang memalingkannya dari hukum tersebut.
b)   menurut jumhur ulama Ushul Fiqh, pada dasarnya suatu perintah tidak menunjukkan harus berulang kali dilakukan kecuali ada dalil untuk itu.
c)    Suatu perintah tidak menghendaki untuk segera dilakukan selama tidak ada dalil lain yang menunjukkan untuk itu, karena yang di maksud oleh suatu perintah hanyalah terwujudnya perbuatan yang diperintahkan.[7]
Jadi dapat disimpulkan bahwa kaidah-kaidah yang berhubungan dengan amr yaitu apabila dalam nash (teks) syara’ terdapat salah satu dari bentuk perintah tersebut. Maka suatu perintah menunjukkan hukum wajib dilaksanakan kecuali ada indikasi atau dalil yang memalingkannya dari hukum tersebut.

B.            Nahi (Larangan)
1.    Pengertian Nahi.
Nahi dari segi bahasa artinya larangan. Sedangkan menurut syara’ nahi ialah tuntutan untuk meninggalkan perbuatan dari orang yang lebih tinggi tingkatannya kepada orang yang lebih rendah tingkatannya.[8]
pengertian nahy menurut beberapa para ahli :
a.    Menurut Zaky al-Din Sya’ban menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Nahy ialah: Sesuatu tuntutan yang menunjukkan (mengandung) larangan untuk berbuat.
b.    Menurut ulama Ushul fiqh mendefinisikan nahy sebagai berikut: Nahy ialah Larangan melakukan suatu perbuatan dari pihak yang lebih tinggi kedudukannya kepada yang lebih rendah tingkatanya dengan kalimat yang menunjukkan atas hal itu.
Jadi dapat saya simpulkan nahy adalah kalimat yang menunjukkan larangan untuk berbuat sesuatu dari yang lebih tinggi tingkatannya kepada yang lebih rendah tingkatannya. Maksudnya yaitu Allah swt melarang manusia untuk berbuat sesuatu yang melangar perintahnya.

2.    Bentuk-bentuk nahy
Nahy itu merupakan tuntutan yang berisi larangan, maka pada bagian ini diuraikan berberapa bentuk nahy. Diantaranya :

a.    Larangan secara tegas dengan menggunakan kata nah ((نهى  atau yang seakar dengannya yang secara bahasa berarti malarang. Misalnya firman Allah swt dalam Q.s an-Nahl: 90
۞ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ


Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari       perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran            kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”.

b.    Larangan dengan menjelaskan bahwa suatu perbuatan diharamkan. misalnya firman Allah swt dalam Q.s al-A’raf: 33

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar            hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan)            mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan        hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah   apa yang tidak kamu ketahui”.(Q.s al-A’raf: 33)

c.    Larangan dengan menggunakan kata kerja mudhari’ (kata kerja untuk sekarang/ mendatang) yang disertai huruf lam yang menunjukan larangan. Misalnya firman Allah swt dalam Q.s al-An’am: 152
وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُ ۖ 
Artinya: “Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara         yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.”. (Q.s al-An’am: 152)

d.   Kalimat nahi menggunakan kalimat amr. Firman Allah dalam Q.s al-Maidah: 90

   يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar,       berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah,        adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan        itu agar kamu mendapat keberuntungan”.(Q.s al-Maidah: 90).[9]
3.    Beberapa kemungkinan hukum yang ditunjukkan bentuk Nahy.
a)    Untuk menunjukkan hukum haram.
b)   Sebagai anjuran untuk meninggalkan.
c)    Penghinaan.
d)   Untuk menyatakan permohonan.

4.    Kaidah-kaidah yang berhubungan dengan Nahy (Larangan).
a)    Al-ashlu fil nahyi lil-tahriimi (    الأصل فى النهى للتحريم,), pada dasarnya suatu larangan menunjukkan hukum haram yang melakukan perbuatan yang dilarang kecuali ada indikasi yang menunjukkan hukum lain.
b)   Suatu larangan menunjukkan fasad (rusak) perbuatan yang dilarang itu jika dikerjakan.
c)    Suatu larangan terhadap suatu perbuatan berarti perintah terhadap kebalikannya.[10]
Jadi dapat saya simpulkan bahwa kaidah-kaidah yang berhubungan dengan nahy (larangan) pada dasarnya menunjukkan suatu larangan untuk melakukan perbuatan yang dilarang kecuali ada indikasi yang menunjukkan suatu hukum yang lain.


PENUTUP

A.  Simpulan
Amr adalah suatu perintah untuk berbuat sesuatu dari yang lebih tinggi tingkatannya kepada yang lebih rendah tingkatanya. Bentuk-bentuk pada amr terdapat empat bentuk, yaitu:
a.    Kalimat amr menggunakan fi’il amr.
b.    Kalimat amr menggunakan lam amr.
c.    Kalimat amr menggunakan kata amara dan farida.
d.   Kaliamt amr menggunakan kata ikhbar.
Adapun nahy yaitu suatu larangan untuk melakukan suatu perbuatan dari pihak yang lebih tinggi kedudukannya kapada yang lebih rendah tingkatannya. Bentuk-bentuk pada nahy terdapat empat bentuk, yaitu:
a.    Larangan secara tegas dengan menggunakan kata naha ((نهى atau yang seakar dengannya yang secara bahasa berarti malarang.
b.    Larangan dengan menjelaskan bahwa suatu perbuatan diharamkan.
c.    Larangan dengan menggunakan kata kerja mudhari’ (kata kerja untuk sekarang/mendatang) yang disertai huruf lam yang menunjukan larangan.
d.   Kalimat nahi menggunakan kalimat amr.


REFERENSI


Al-Qur’an digital Versi 2.0. 2004
Efendi, M. Zein, Satria. 2005. Ushul Fiqh. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Hanafie. 1980. Ushul Fiqh. Jakarta: Bumirestu.
M. Rizal Qosir. 2006. Fikih. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
Syafe’i, Rachmat. 1998. Ilmu Ushul Fiqh. Bandung: Pustaka Setia.
Romli. 2006. Ushul Fiqh (Metodelogi Penetapan Hukum Islam). (Palembang: IAIN Raden Fatah press.



[1] Rachmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqh, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), hlm. 200.
[2] Satria Efendi, M. Zein, Ushul Fiqh, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,  2005),  hlm. 178.
[3] Romli, Ushul Fiqh (Metodelogi Penetapan Hukum Islam), (Palembang: IAIN Raden Fatah press, 2006), hlm. 166.
[4] M. Rizal Qosir, Fikih, (Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2006), hlm. 89-90
[5] Al-Qur’an digital Versi 2.0, 2004.
[6] Satria efendi, M. Zein, op. Cit, hlm. 183.
[7] Ibid, hlm. 186.
[8] Hanafie, Ushul Fiqh, (Jakarta: Bumirestu, 1980), hlm. 44.
[9] Al-Qur’an digital Versi 2.0, 2004
[10] Ibid, hlm. 190-194. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
loading...