Wednesday, 23 March 2016

Contoh Laporan Individu Mahasiswa KKN Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum - Tentang Hukum Shalat Gerhana Matahari (Kusuf Syams) Menurut Mazhab Syafi'i dan Mazhab Hanafi Analisis Studi Shalat Kusuf Syams di Masjid Taqwa Desa Muara Tawi

LAPORAN INDIVIDU

KULIAH KERJA NYATA MAHASISWA
TEMATIK POSDAYA BERBASIS MASJID
MASJID TAQWA DESA MUARA TAWI
Tentang
“HUKUM SHALAT GERHANA MATAHARI (KUSUF SYAMS) MENURUT MAZHAB SYAFI’I DAN HANAFI
ANALISIS STUDI SHALAT GERHANA MATAHARI DIMASJID TAQWA DESA MUARA TAWI, KEC. JARAI KAB. LAHAT SUMSEL”

OLEH:
ISWAHYUDI
NIM (12150030)

  

JURUSAN PERBANDINGAN MAZHAB DAN HUKUM
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT (LP2M)
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH PALEMBANG

TAHUN 2016




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kusuful Qamar (Gerhana Bulan) dan Khusufusy Syams (Gerhana Matahari) adalah dua tanda-tanda kebesaran Allah Taala yang dikehendaki-Nya terjadi dalam kehidupan dunia. Keduanya tidak terkait dengan mitos dan khurafat tertentu. Keduanya dan hal apa pun yang terjadi pada benda-benda langit adalah terjadi sesuai dengan iradah dan qudrah-Nya atas mereka.
Allah berfirman:
الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ (5) وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ (6) وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ (7) أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ (8
Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan Kedua-duanya tunduk kepada nya dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan), supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. (Ar-Rahman: 5-8)
Islam telah memberikan bimbingan bagi umatnya tentang apa yang mesti mereka perbuat jika datang peristiwa gerhana. Peristiwa ini bukan sekadar menjadi pengalaman alamiah semata, dan sekadar untuk bersenang-senang melihat gerhana, tetapi dikembalikan kepada upaya dan sarana pengabdian kepada yang menciptakan terjadinya gerhana.
Berkenaan dengan shalat gerhana matahari (kusufusy syams) ulama mazhab fiqh dalam penetapan hukum shalat tersebut berbeda pendapat terumata dari Mazhab Syafi’i dan dan Mazhab Hanafi.
Oleh karena itu, pada laporan Individu Kuliah Kerja Nyata dari Iswahyudi kali ini membahas tentang Hukum Shalat Gerhana Matahari (Kusuf syams) menurut Mazhab Syafi’I dan Mazhab Hanafi analasisi studi Shalat Gerhana Matahari (Kusuf syams) di Masjid Taqwa desa Muara Tawi, Kec. Jarai, Kab. Lahat. Sumatera Selatan.

B.     Rumusan Masalah
Adapun  rumusan masalah pada laporan individu ini adalah sebagai berikut:
1.    Bagaimana keadaan dan pendapat dari jamaah dan tokoh ulama tentang shalat gerhana matahari (kusuf syams) didesa Muara Tawi?
2.    Bagaimana kesimpulan pendapat hukum shalat gerhana matahari (kusuf syams)?

C.    Metodologi Penelitian
Metode penelitian merupakan pendekatan atau cara ilmiah yang dilakukan untuk mendapatkan data dengan tujuan tertentu. Adapun dalam penulisan laporan Individu ini, digunakan beberapa metode agar diperoleh suatu hasil yang valid sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Adapun penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut:
1.      Pendekatan
Adapun pendekatan didalam penelitian ini diantaranya yaitu jenis penelitian dan sumber data, antara lain sebagai berikut:
a.          Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan komperatif dengan menggunakan pendekatan kualitatif.
b.         Sumber Data
1)         Data Primer
Data primer adalah data yang didapat dari sumber pertama baik individu atau perorangan. Adapun data pokok ini adalah dari beberapa referensi kitab atau buku.
2)      Data Sekunder
Data sekunder adalah data primer yang telah diolah lebih lanjut kemudian disajikan, baik oleh pihak pengumpul data primer atau oleh pihak lain. Adapun data  sekunder atau data tambahan pelengkap pada penelitian ini adalah bersumber dari buku-buku lainnya yang berkaitan dengan pembahasan i ini, serta wawancara dari peneliti dengan informan yaitu pihak jamaah masjid Taqwa desa Muara Tawi.
Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini, penulis menggunakan empat cara yaitu anatara lain:
a.       Studi kepustakaan adalah dengan menggunakan kajian studi kepustakaan berupa mengambil beberapa sumber-sumber penelitian ini dari buku yang berkaitan tentang shalat gerhana matahari (kusuf syams).
b.      Dokumentasi yaitu dengan mengumpulkan data-data dokumen yang berkenaan dengan keadaan shalat dan jamaah Masjid Taqwa desa Muara Tawi.
c.       Wawancara adalah pertemuan antara peneliti dengan informan yaitu jamaah masjid Taqwa dan tokoh alim ulama diMasjid Taqwa desa Muara Tawi.

2.      Analisis Data
Analisis data adalah data yang telah berhasil dihimpun baik itu dari pustaka dan penelitian langsung kepada pihak  jamaah Masjid Taqwa desa Muara Tawi, dan akan dianalisis dengan menggunakan dua metode, adapun metode yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah
a.         Metode Deskriptif
Metode deskriptif adalah sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek atau obyek penelitian. Adapun deskriptif pada penelitian ini adalah dengan menggambarkan tentang keadaan shalat gerhana matahari didesa Muara Tawi.
b.         Metode Komperatif
Metode komperatif  yaitu digunakan untuk mengkaji tentang perbandingan mazhab berkenaan dengan hukum shalat gerhana matahari (kusuf syams).

D.    Sistematika Penulisan
Sistematika Penulisan Laporan Individu ini terdiri dari lima bab, masing-masing bab membahas permasalahan yang diuraikan menjadi beberapa sub bab untuk mendapatkan gambaran yang jelas serta mempermudah dalam pembahasan, secara global sistematika laporan individu ini adalah sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II            : LANDASAN TEORI
Bab ini menjelaskan tentang landasan teori berkenaan dengan penelitian laporan ini dalam hal ini isi dari landasan teori antara lain adalah penjelasan shalat gerhana matahari, pengertian mazhab dan profil mazhab Syafi’I dan mazhab Hanafi, serta istimbath hukum shalat gerhana matahari (kusuf syams) menurut Mazhab Syafi’I dan Hanafi.
BAB III          : KONDISI OBJEKTIF LOKASI PENELITIAN
Bab ini membahas mengenai tentang keterangan terkait wilayah yang menjadi objek penelitian dan dalam hal ini berisi tentang Profil Masjid Taqwa Muara Tawi dan Keadaan Masyarakat atau Jamaah Masjid Taqwa desa Muara Tawi.

BAB IV          : PEMBAHASAN
Bab ini membahas mengenai pembahasan yaitu keadaan dan pendapat dari jamah dan tokoh ulama tentang shalat gerhana matahari (kusuf syams) didesa Muara Tawi dan pendapat hukum shalat gerhana matahari (kusuf syams).

BAB V            : PENUTUP
Bab ini merupakan bab terahir yang berisi kesimpulan hasil penelitian.


BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Shalat Gerhana Matahari (Kusuf Syams)
·           Pengertian
Shalat gerhana dalam bahasa arab sering disebut dengan istilah khusuf (الخسوف) dan juga kusun (الكسوف) sekaligus. Secara bahasa, kedua istilah itu sebenarnya punya makna yang sama. Shalat gerhana matahari dan gerhana bulan sama-sama disebut dengan kusuf dan juga khusufsekaligus.
Namun masyhur juga di kalangan ulama penggunaan istilah khusuf untuk gerhana bulan dan kusuf untuk gerhana matahari.[1]
Kusuf (كسوف) adalah peristiwa dimana sinar matahari menghilang baik sebagian atau total pada siang hari karena terhalang oleh bulan yang melintas antara bumi dan matahari.
Khusuf (خسوف) adalah peristiwa dimana cahaya bulan menghilang baik sebagian atau total pada malam hari karena terhalang oleh bayangan bumi karena posisi bulan yang berada di balik bumi dan matahari.
·           Pensyariatan Shalat Gerhana
Shalat gerhana adalah shalat sunnah muakkadah yang ditetapkan dalam syariat Islam sebagaimana para ulama telah menyepakatinya.
·         Al-Quran
Dalilnya adalah firman Allah SWT :
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Dan dari sebagian tanda-tanda-Nya adalah adanya malam dan siang serta adanya matahari dan bulan. Janganla kamu sujud kepada matahari atau bulan tetapi sujudlah kepada Allah Yang Menciptakan keduanya. (QS. Fushshilat : 37)
Maksud dari perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Yang Menciptakan matahari dan bulan adalah perintah untuk mengerjakan shalat gerhana matahari dan gerhana bulan.
·         As-Sunnah
Selain itu juga Rasulullah SAW bersabda :
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِيَ
Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda Allah SWT. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah hingga selesai fenomena itu.(HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)
Selain itu juga ada hadits lainnya :
لَمَّا كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُول اللَّهِ  نُودِيَ : إِنَّ الصَّلاَةَ جَامِعَةٌ
Ketika matahari mengalami gerhana di zaman Rasulullah SAW, orang-orang dipanggil shalat dengan lafaz : As-shalatu jamiah". (HR. Bukhari).
Shalat gerhana disyariatkan kepada siapa saja, baik dalam keadaan muqim di negerinya atau dalam keadaan safar, baik untuk laki-laki atau untuk perempuan. Atau diperintahkan kepada orang-orang yang wajib melakukan shalat Jumat.
Namun meski demikian, kedudukan shalat ini tidak sampai kepada derajat wajib, sebab dalam hadits lain disebutkan bahwa tidak ada kewajiban selain shalat 5 waktu semata.
·           Pelaksanaan Shalat Gerhana
1.         Berjamaah
Shalat gerhana matahari dan bulan dikerjakan dengan cara berjamaah, sebab dahulu Rasulullah SAW mengerjakannya dengan berjamaah di masjid. Shalat gerhana secara berjamaah dilandasi oleh hadits Aisyah radhiyallahu 'anha.
2.         Tanpa Azan dan Iqomat
Shalat gerhana dilakukan tanpa didahului dengan azan atau iqamat. Yang disunnahkan hanyalah panggilan shalat dengan lafaz "As-Shalatu Jamiah". Dalilnya adalah hadits berikut :
لَمَّا كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُول اللَّهِ  نُودِيَ : إِنَّ الصَّلاَةَ جَامِعَةٌ
Ketika matahari mengalami gerhana di zaman Rasulullah SAW, orang-orang dipanggil shalat dengan lafaz : As-shalatu jamiah". (HR. Bukhari)
3.         Sirr dan Jahr
Namun shalat ini boleh juga dilakukan dengan sirr (merendahkan suara) maupun dengan jahr (mengeraskannya).
4.         Mandi
Juga disunnahkan untuk mandi sunnah sebelum melakukan shalat gerhana, sebab shalat ini disunnahkan untuk dikerjakan dengan berjamaah
5.         Khutbah
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum khutbah pada shalat gerhana.
·         Disyariatkan Khutbah
Menurut pendapat As-Syafi'iyah, dalam shalat gerhana disyariatkan untuk disampaikan khutbah di dalamnya. Khutbahnya seperti layaknya khutbah Idul Fithri dan Idul Adha dan juga khutbah Jumat.
Dalilnya adalah hadits Aisyah ra berikut ini :
Dari Aisyah ra berkata,"Sesungguhnya ketika Nabi SAW selesai dari shalatnya, beliau berdiri dan berkhutbah di hadapan manusia dengan memuji Allah, kemudian bersabda, "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda Allah SWT. Keduanya tidak menjadi gerhana disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah. (HR. Bukhari Muslim)
Dalam khutbah itu Rasulullah SAW menganjurkan untuk bertaubat dari dosa serta untuk mengerjakan kebajikan dengan bersedekah, doa dan istighfar (minta ampun).
·         Tidak Disyariatkan Khutbah
Sedangkan Al-Malikiyah mengatakan bahwa dalam shalat ini disunnahkan untuk diberikan peringatan (al-wa'zh) kepada para jamaah yang hadir setelah shalat, namun bukan berbentuk khutbah formal di mimbar.
Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah juga tidak mengatakan bahwa dalam shalat gerhana ada khutbah, sebab pembicaraan Nabi SAW setelah shalat dianggap oleh mereka sekedar memberikan penjelasan tentang hal itu.
Dasar pendapat mereka adalah sabda Nabi SAW :
Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah. (HR. Bukhari Muslim)
Dalam hadits ini Nabi SAW tidak memerintahkan untuk disampaikannya khutbah secara khusus. Perintah beliau hanya untuk shalat saja tanpa menyebut khutbah.
6.      Banyak Berdoa, Dzikir, Takbir dan Sedekah
Disunnahkan apabila datang gerhana untuk memperbanyak doa, dzikir, takbir dan sedekah, selain shalat gerhana itu sendiri.
فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
Apabila kamu menyaksikannya maka berdoalah kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedekah. (HR. Bukhari dan Muslim)
·         Tata Cara Teknis Shalat Gerhana
Ada pun bagaimana bentuk teknis dari shalat gerhana, para ulama menerangkan berdasarkan nash-nash syar'i sebagai berikut :
1.      Dua Rakaat
Shalat gerhana dilakukan sebanyak 2 rakaat. Masing-masing rakaat dilakukan dengan 2 kali berdiri, 2 kali membaca qiraah surat Al-Quran, 2 ruku' dan 2 sujud. Dalil yang melandasi hal tersebut adalah :
Dari Abdullah bin Amru berkata,"Tatkala terjadi gerhana matahari pada masa Nabi SAW, orang-orang diserukan untuk shalat "As-shalatu jamiah". Nabi melakukan 2 ruku' dalam satu rakaat kemudian berdiri dan kembali melakukan 2 ruku' untuk rakaat yang kedua. Kemudian matahari kembali nampak. Aisyah ra berkata,"Belum pernah aku sujud dan ruku' yang lebih panjang dari ini. (HR. Bukhari dan Muslim)
2.      Bacaan Al-Quran
Shalat gerhana termasuk jenis shalat sunnah yang panjang dan lama durasinya. Di dalam hadits shahih disebutkan tentang betapa lama dan panjang shalat yang dilakukan oleh Rasulullah SAW itu :
ابْنُ عَبَّاسٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا - قَال : كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُول اللَّهِ  فَصَلَّى الرَّسُول  وَالنَّاسُ مَعَهُ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلاً نَحْوًا مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً ثُمَّ قَامَ قِيَامًا طَوِيلاً وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الأْوَّل ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأْوَّل
Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu, dia berkata bahwa telah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW melakukan shalat bersama-sama dengan orang banyak. Beliau berdiri cukup lama sekira panjang surat Al-Baqarah, kemudian beliau SAW ruku' cukup lama, kemudian bangun cukup lama, namun tidak selama berdirinya yang pertama. Kemudian beliau ruku' lagi dengan cukup lama tetapi tidak selama ruku' yang pertama. (HR. Bukhari dan Muslim)
Lebih utama bila pada rakaat pertama pada berdiri yang pertama setelah Al-Fatihah dibaca surat seperti Al-Baqarah dalam panjangnya.
Sedangkan berdiri yang kedua masih pada rakaat pertama dibaca surat dengan kadar sekitar 200-an ayat, seperti Ali Imran.
Sedangkan pada rakaat kedua pada berdiri yang pertama dibaca surat yang panjangnya sekitar 250-an ayat, seperti An-Nisa. Dan pada berdiri yang kedua dianjurkan membaca ayat yang panjangnya sekitar 150-an ayat seperti Al-Maidah.
3.      Memperlama Ruku' dan Sujud
Disunnahkan untuk memanjangkan ruku' dan sujud dengan bertasbih kepada Allah SWT, baik pada 2 ruku' dan sujud rakaat pertama maupun pada 2 ruku' dan sujud pada rakaat kedua.
Yang dimaksud dengan panjang disini memang sangat panjang, sebab bila dikadarkan dengan ukuran bacaan ayat Al-Quran, bisa dibandingkan dengan membaca 100, 80, 70 dan 50 ayat surat Al-Baqarah.
Panjang ruku' dan sujud pertama pada rakaat pertama seputar 100 ayat surat Al-Baqarah, pada ruku' dan sujud kedua dari rakaat pertama seputar 80 ayat surat Al-Baqarah. Dan seputar 70 ayat untuk rukuk dan sujud pertama dari rakaat kedua. Dan sujud dan rukuk terakhir sekadar 50 ayat.
Dalilnya adalah hadits shahih yang keshahihannya telah disepakati oleh para ulama hadits.
كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُول اللَّهِ  فَصَلَّى الرَّسُول  وَالنَّاسُ مَعَهُ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلاً نَحْوًا مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً ثُمَّ قَامَ قِيَامًا طَوِيلاً وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الأْوَّل ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأْوَّل
Dari Ibnu Abbas ra berkata,"Terjadi gerhana matahari dan Rasulullah SAW melakukan shalat gerhana. Beliau beridri sangat panjang sekira membaca surat Al-Baqarah. Kemudian beliau ruku' sangat panjang lalu berdiri lagi dengan sangat panjang namun sedikit lebih pendek dari yang pertama. Lalu ruku' lagi tapi sedikit lebih pendek dari ruku' yang pertama. Kemudian beliau sujud. Lalu beliau berdiri lagi dengan sangat panjang namun sidikit lebih pendek dari yang pertama, kemudian ruku' panjang namun sedikit lebih pendek dari sebelumnya.(HR. Bukhari dan Muslim).[2]

B.     Pengertian Mazhab dan Profil Mazhab Syafi’I dan Mazhab Hanafi
·      Pengertian Mazhab
Secara bahasa, mazhab memiliki dua pengertian, pertama kata mazhab berasal dari kata zahaba-yazhabu yang memiliki arti telah berjalan, telah berlalu, telah mati. Pengertian kedua yakni, mempunyai arti suatu yang diikuti dalam berbagai masalah disebabkan adanya pemikiran, oleh karena itu mazhab berarti yang diikuti atau dijadikan pedoman atau metode.[3]
Secara istilah, Madzhab adalah hasil ijtihad seorang imam (mujtahid) tentang hukum suatu masalah atau tentang kaidah-kaidah istinbath. Dengan demikian pengertian mazhab adalah: mengikuti hasil ijtihad seorang imam tentang hukum suatu masalah atau kaidah-kaidah istinbath-nya.[4]
Dapat penulis simpulkan bahwasannya mazhab diartikan sebagai alur pikir, pendapat, kepercayaan, ideologi, doktrin, ajaran, paham dan aliran-aliran dalam hukum yang merupakan hasil ijtihad dari para Imam dari dalil-dalil yang terperinci.
Secara umum, proses lahirnya mazhab yang paling utama adalah faktor usaha para murid imam mazhab yang menyebarkan dan menanamkan pendapat para imam kepada masyarakat dan juga disebabkan adanya pembukuan pendapat para imam mazhab sehingga memudahkan tersebarnya pendapat tersebut di kalangan masyarakat. Karena pada dasarnya, para Imam mazhab tidak mengakui atau mengklaim sebagai “mazhab”.Secara umum, mazhab berkaitan erat dengan nama imam atau tempat.[5]
·      Profil Mazhab Syafi’I dan Mazhab Hanafi
Mazhab Syafi’i (150-204 H / 767-822 M)
Imam Syafi’i memiliki nama lengkap Muhammad bin Idris bin Abbas bin Usman bin Syafi’i bin as-sai’ib bin Ubaid Yaziz bin Hasyim bin Murhalib bin Abdu Munaf.[6] Beliau termasuk suku Quraisy. Dilahirkan di Ghaza, salah saatu kota Palestina pada tahu 150 H. Ayahnya meninggal ketika beliau masih bayi, sehingga beliau dibesarkan dalam keadaan yatim dan fakir. Karena kefakirannya beliau sering memungut kertas-kertas yang telah dibuang dan menyadari bahwasannya Al Quran itu bahasanya sangat indah dan maknanya sangat dalam, maka beliau pergi ke Kabilah Hudzail untuk mempelajari dan mendalami satra Arab serta mengikutu saran hidup Muhammad SAW, pada masa kecilnya. Disana beliau sampai hafal sepuluh ribu bait syair-syair Arab.
Di Mekkah beliau berguru pada Sufyan bin Uyainah dan kepada Muslim bin Khalid. Setelah itu pergi ke Madinah untuk berguru pada Imam Malik. Pada saat itu beliau berumur 20 tahun dan belajar di sana selama tujuh tahun.
Bagi Imam Syafi’i ibadah itu harus membawa kepuasan dan ketenagan dalam hati. Untuk itu diperlukan kehati-hatian. Oleh karena itu, konsep Ikhyat (kehati-hatian) mewarnai pemikiran Imam Syafi’i.
Imam Syafi’i menyebut Al-Quran dan Sunnah adalah sebagai dua dasar (sumber) dan menetapkan Ijma’ dan Qiyas sebagai dasar (sumber) pembantu.[7]
Mazhab Hanafi (80-150 H/ 696-767 M)
Memilik nama lengkap An-Nu’man bin Tsabit bin Zutha bin Mahmuli Taymillah bin Tsalabah. Beliau keturunan Parsi yang merdeka, dan Hanfah bin ismail bin Hamis berkata : “kami keturunan Parsi yang merdeka.” Demi Allah kami tidak pernah tertimpa budak sama sekali. Dilahirkan pada tahun 80 H. Beliau termasuk Tabiit Tabi’in ( yang mengikuti Tabi’in ).
Beliau lebih terkenl dengan nama hanifah. Bukan kerena mempunyai anak bernama Hanifah, tetapi asal nama itu dari Abu al-Millah al-hanifah, diambil dari ayat: “Fatt Abi’u millah Ibrahia Hanifa” (maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus. Ali Imran ayat 95). Belaiu orang Persia yang menetap di Kufah. Pada waktu kecil beliau menghafal Al Quran, seperti dilakukan anak-anak pada  masa itu, kemudian berguru pada Imam Ashim salah seorang imam Qiro’ah sab’ah. Keluarganya adalah keluarga pedagang dan kemudian beliau menjadi pedagang. Guru Abu Hanifah yang terkenal diantaranya adalah al-Sya’bi dan Hammad Abi Sulayman di Kuffah, Hasan Basri di Basrah, Atha’ bin Rabbah di Mekkah, Sulayman, dan Salim di Madinah.
Yang menonjol dari fiqih Abu Hanifah ini antara lain adalah:
o Sangat rasional, mementingkan maslahat, dan manfaat.
o Lebih mudah dipahami dari pada mazhab yang lain.
o Lebih liberal sikapnya terhadap dzimis (warga negara yang nonmuslim).
Imam Abu Hanifah meninggal pada bulan Rajab tahun 150 H. Meskipun Abu Hanifah seorang ulama besar, beliau tidak merasa memonopoli kebenaran. Hal itu terbukti dari pernyataan:
saya mengambil pendapat ini, karena pendapat ini benar, tapi mengandung kemungkinan salah. Dan saya tidak mengambil pendapat itu, karena pendapat itu salah, tapi mengandung kemungkinan benar”.
Beliau meninggal ketika sedang  Shalat. Kitab yang langsung di nisbatkan kepada Abu Hanifah adalah Fiqh al-Akbar, al-Alim wal Muta’alim, dan Musnad.[8]

C.    Hukum Shalat Gerhana Matahari (Kusuf Syams)
Mengenai hukum dari shalat gerhana matahari (Kusuf Syams) para ulama umumnya sepakat mengatakan bahwa shalat gerhana matahari hukumnya sunnah muakkadah, kecuali mazhab Al-Hanafiyah yang mengatakan hukumnya wajib.
Jumhur ulama yaitu mazhab As-Syafi'iyah, Hanabilah, Malikiyah dan mazhab lainya berketetapan bahwa hukum shalat gerhana matahari adalah sunnah muakkad.
Sedangkan Mazhab Al-Hanafiyah berpendapat bahwa shalat gerhana matahari hukumnya wajib.[9]


BAB III
KONDISI OBJEKTIF LOKASI PENELITIAN

A.    Profil Masjid Taqwa Desa Muara Tawi
Desa Muara Tawi mempunyai sebuah Masjid atau tempat pusat peribadatan Umat Islam, tempat taman pendidikan Al-Qur’an anak-anak  dan majelis ilmu ta’lim serta tempat pusat silahturrahmi masyarakat desa Muara Tawi yaitu Masjid Taqwa.
Masjid Taqwa, desa Muara Tawi, Kec. Jarai Lahat Sumsel
Masjid Taqwa adalah masjid yang terletak di jalan raya Pagaralam – Pendopo/Bengkulu, dusun II, Desa Muara Tawi, Kec. Jarai Kabupaten Jarai, Provinsi Sumatera Selatan.
Masjid taqwa dibangun oleh masyarakat sekitar lebih kurang tahun 1930-an oleh masyarakat sekitar desa Muara Tawi, dan bisa menampung sampai 300 jamaah serta kondisi masjid dalam kondisi baik.
Dan kepengurusan Masjid Taqwa Muara Tawi dipimpin oleh ketua Masjid Bapak Masri, dibawah penasehat Kepala Desa dan Kasi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) yang dipimpin oleh bapak Arwanto.
Adapun susunan pengurus Masjid Taqwa Desa Muara Tawi adalah sebagai berikut:
v  Pelindung Penasehat      :           Nilwan (Kepala Desa)
v  Ketua                             :           Masri. M
Sekretaris                       :           Indri
Bendahara                      :           Sukirno
v  Seksi-Seksi
-       Seksi Kegiatan Ibadah (Imarah)
Ketua                                    :           Sarupi
Sekretaris                  :           Ibnu Hajar
Anggota                    :           1. Jamaludin
                                             2. Waharudin
                                             3. Hutami
·      Seksi Administrasi    (idara)
Ketua                                    :           Harnoto
Sekretaris                  :           Sulaiman
Anggota                    :           1. Muzahirin
                                              2. Zazili Ikbal
                                              3. Hartanudi
·      Seksi Pemeliharaan (ri’ayah)
Ketua                                    :           Nopa Harianto
Sekretaris                  :           Rizali
Anggota                    :           1. Hingki Sisko
                                              2. Haryono
                                              3. Herwandi
                                              4. Asman

B.     Masyarakat dan Jamaah Masjid Taqwa Muara Tawi
Desa Muara Tawi, terletak disebelah utara dari ibu kota kecamatan jarai, kabupaten Lahat Sumatera Selatan. Desa ini berjarak 1 Km dari kecamatan, 73 Km dari ibu kota kabupaten Lahat dan 350 Km dari ibu kota provinsi Sumatera Selatan. Dan dipimpin oleh kepala desa yaitu bapak Nilwan.
Menurut sejarah penduduk pertama desa Muara Tawi berasal dari desa Bangke Tengah Padang lebih kurang Tahun 1923 M, Senamang Balas dan Meskat pindah dari Bangke tengah Padang ke permukiman yang baru, tempat permukiman baru ini merupakan tempat bermuaranya Air Suban dan tempat dimakamkanya Puyang Palembang yang bernama Tawi, dari sinilah ide pemberian nama tempat pemukiman yang baru tersebut dengan nama Muara Tawi.
Masyarakat desa Muara Tawi atau Jamaah lingkungan Masjid Taqwa desa Muara Tawi, berpenduduk lebih kurang 500 jiwa atau 125 KK, dan mayoritas 100 % penduduk adalah menganut agama islam.


BAB IV
PEMBAHASAN

A.    Keadaan Shalat Gerhana Matahari dan Pendapat Jamaah Masjid Taqwa Tentang Shalat Gerhana Matahari (Kusuf Syams)
·      Keadaan Shalat Gerhana Matahari di Masjid Taqwa Muara Tawi
Shalat Gerhana Matahari pada tahun 2016 yang dilaksanakan bertepatan pada hari rabu tanggal 9 Maret 2016, di Masjid Taqwa desa Muara Tawi dan dimulai pada pukul 07.00 WIB. Dengan Iqomah dan Bilal Ust. Harnoto, Imam Ust. Novalyo Suranda (Mahasiswa KKN UIN Raden Fatah Palembang 2016) dan Khotib Ust. Iswahyudi (Mahasiswa KKN UIN Raden Fatah Palembang 2016).
Suasana Shalat Gerhana Matahari (Kusuf Syams) 2016 di Masjid Taqwa desa Muara Tawi, Kec. Jarai Lahat
Shalat Gerhana Matahari, yang dilaksanakan ketika peristiwa alam (kekuasaan kebesaran Allah) merupakan shalat sunnah yang dilakukan secara berjamaah dan berisi dakwah atau nasihat untuk jamaah melalui untaian khotbah dari khotib. Shalat tersebut sebagai wujud syukur, doa dan zikir kepada Allah SWT.
Pada shalat sunnah gerhana matahari ini, di Masjid Taqwa Muara Tawi, jamaah sangat berapresiasi sekali, khusuk dan mengikuti shalat dengan seksama lebih kurang hadir lebih kurang sekitar 100 jamaah.
·      Pendapat Jamaah Masjid Taqwa Muara Tawi Tentang Shalat Gerhana Matahari
Penulis atau peneliti besera mahasiswa Kuliah Kerja Nyata ke 66 Tahun 2016 Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang di kelompok 9 dalam hal ini turut membantu dan berbaur serta bersilahturrahmi dengan masyarakat dan jamaah masjid Taqwa desa Muara Tawi atas terselenggaranya shalat gerhana bersama dan kegiatan-kegiatan dimasjid dan dilingkungan desa.
Berkenaan Shalat gerhana Kali ini peneliti berinteraksi langsung dengan jamaah, yang mana pada shalat gerhana matahari di Masjid Taqwa yang mengisi taujih dan tata tertib shalat gerhana adalah Ust. Harnoto, dan Alhamdulillah para jamaah mengikuti dengan seksama dan khusu’ dalam shalat tersebut.
Dalam hal ini peneliti 1 atau 2 hari sebelum shalat gerhana berjamaah duduk bersama dan mengadakan penyuluhan tentang shalat dan shalat gerhana matahari dengan para pengurus masjid, alim ulama sekitar desa Muara Tawi, anak-anak taman pendidikan Al-Qur’an (TPA) dan jamaah Masjid Taqwa desa Muara Tawi.
Oleh karena itu didalam penelitian kali ini peneliti mewawancarai langsung kepada perwakilan jamaah dan mengutip penyampaian penyuluhan oleh Ust. Harnoto,
Yang Pertama Bahwa Peristiwa Gerhana Matahari adalah terjadi ketika posisi bulan terletak diantara Bumi dan Mahari. Sehingga menutup sebagian atau seluruh matahari dan pada peristiwa langkah pada kali ini adalah fenomena alam yaitu gerhana matahari total, yang mana peristiwa gerhana total pada kali ini adalah pukul 07.21 waktu Lahat atau Pagaralam.
Kedua bahwa shalat gerhana matahari ini dilakukan ketika terjadi gerhana matahari atau bulan sesuai dengan perintah Rasulullah bahwa ketika terjadi gerhana hendaklah shalat dan perlama ruku dan sujud. Dan juga shalat ini sebagai rasa syukur, doa, dan zikir atas keajaiban dan kekuasaan Allah SWT tuhan semesta Alam.
Ketiga bahwa menurut ulama sekitar seperti Ust. Sarupi dan lain-lain tentang shalat gerhana ini adalah hukumnya sunnah yang dilaksanakan ketika terjadi peristiwa alam yang sangat langkah (gerhana matahari total) dan pada shalat ini berdasarkan kesepakatan ulama bahwa didalam shalat gerhana matahari disirrkan (Pelan Bacaan Shalat) dan shalat gerhana bulan diJahrkan (Keraskan Bacaan Shalat). Tetapi, Apabila pada shalat gerhana matahari atau bulan untuk Jahr atau Sirrkan tidak mengapa. Dan juga pada shalat sunnah gerhana ini sama saja seperti shalat sunnah 2 rakaat lainnya hanya saja, ruku’ dan sujud nya diperlamakan, serta terdapat perbedaan anatra ruku’ dan I’tidal. Yang mana pada ruku’ kemudian I’tidal dan membaca surah Al-Fatihah dan ayat al-Qur’an kemudian ruku’ I’tidal dan sujud dilanjutkan rukun lainya. Dan juga setelah shalat ada khotbahnya.

B.     Pendapat Hukum Tentang Shalat Gerhana Matahari (Kusuf Syams)
Dapat disimpulkan bahwa dari riset penelitian di Masjid Taqwa desa Muara Tawi bahwa pendapat yang terkuat yang sesuai dengan kondisi, situasi dan keadaan masyarakat Indonesia, khususnya pada penelitian ini didesa Muara Tawi Kec. Jarai Kab. Lahat Sumatera Selatan bahwa dalam hukum shalat gerhana matahari (Kusuf syams) adalah sunnah mu’akkad (sunnah yang dikuatkan) sesuai yang ditetapkan oleh Mazhab Syafi’i yang mana arti sunnah sendiri adalah dilaksanakan mendapat pahala ditinggalkan tidak apa-apa. Dan juga sebagai wujud syukur, doa dan zikir atas ciptaan, kekuasaan Allah SWT yang maha pencipta.
Sedangkan pendapat mazhab lain seperti mazhab Hanafi bahwa shalat gerhana adalah wajib. Karena dikarenakan ulama tersebut berdasarkan ra’yu atau rasional dan mementingkan untuk kemaslahatan, karena dibalik peristiwa alam seperti gerhana matahari, adalah waktu yang tepat untuk shalat sunnah, dan amalan-amalan lainnya, silahturrahmi antar jamaah,  dan tentunya untuk menghindarkan manusia dari pancaran sinar matahari yang sangat terang karena bisa merusak mata atau merusak penglihatan dalam hal ini secara rasional bahwa ketika terjadinya gerhana matahari jamaah sedang melaksanakan shalat ataupun mendengarkan nasihat dan dakwah dari khotbah sehingga terhindar pancaran langsung dari matahari. Yang pasti semua ibadah harus ikhlas karena Allah SWT. karena Allah, dijalan Allah dan mendapatkan ridho Allah SWT. Wallahualam bishowab.


BAB V
PENUTUP

Adapun penutup dari penelitian pada laporan individu ini dapat ditarik kesimpulan antara lain sebagai berikut:
1.      Bahwa shalat yang dilaksanakan diMasjid Taqwa desa Muara Tawi, dilaksanakan oleh jamaah sangat khusu’, seksama dan tentunya menyambung ukhwa silahturrahmi antar jamaah. Yang pasti sebagai wujud syukur, doa dan zikir pada Allah SWT. Kemudian  ketika terjadi peristiwa alam gerhana matahari disunnahkan untuk shalat.
2.      Bahwa shalat sunnah gerhana matahari diIndonesia khususnya didesa Muara Tawi, adalah hukumnya Sunnah Mu’akkad dalam hal ini sesuai dengan fatwa dari mazhab Syafi’i


DAFTAR PUSTAKA

Dzajuli. Ilmu Fiqih: Penggalian, Perkembangan, dan Penerapan Hukum Islam (Jakarta: Prenada Media Group, 2010)

Muhammad, dkk. Sejarah Fiqh Islam (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2003)

Saleh, Hasmir dkk. An Introduction to Islamic Law (Palembang: IAIN Raden Fatah, 1997)

Supriadi, Dedi. Perbandingan Mazhab dengan Pendekatan Baru, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2008)

Ahmad Sarwat, “Konsultasi Fiqh, Tata Cara Shalat Gerhana dan Ketentuanya” http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1412419253&=keturunan-rasulullah-dan-habaib.html (Download: 19 Maret 2016)



[1] Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili jilid 2 hal. 1421
[2] Ahmad Sarwat, “Konsultasi Fiqh, Tata Cara Shalat Gerhana dan Ketentuanya” http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1412419253&=keturunan-rasulullah-dan-habaib.htm
(Download: 19 Maret 2016)
[3] Dedi Supriadi, Perbandingan Mazhab dengan Pendekatan Baru, (Bandung : CV Pustaka Setia, 2008), hlm. 14
[4] Ibid., hlm. 14
[5] Ibid., hlm. 33
[6] H.A. Dzajuli, Ilmu Fiqih: Penggalian, perkembangan, dan penerapan hukum Islam, (Jakarta: Prenada Media Group,  2010), hlm. 129
[7] Moh Said. Amran Marhamid. Farid.  Hasmir Saleh, An Introduction to Islamic Law, (Palembang: IAIN Raden Fatah, 1997). hlm. 81
[8][8]  Ali As-Sayis dan Muhammad, Sejarah Fiqih Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2003), hlm. 135
[9] Ahmad Sarwat, op.loc
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
loading...