Wednesday, 30 March 2016

Contoh Laporan Individu Mahasiswa KKN Jurusan Psikologi Islam Tentang Pemahaman Belajar Membaca Al-Qur'an, Bacaan Islami Terhadap Pembentukan Karakter Anak-Anak TPA Di Desa Muara Tawi Kec. Jarai Kab. Lahat

LAPORAN INDIVIDU


KULIAH KERJA NYATA MAHASISWA
TEMATIK POSDAYA BERBASIS MASJID
MASJID TAQWA DESA MUARA TAWI KEC JARAI , KEB LAHAT
TENTANG


PEMAHAMAN BELAJAR MEMBACA  AL’QURAN, BACAAN ISLAMI TERHADAP PEMBENTUKAN KAREKTER ANAK-ANAK TPA TAQWA DI DESA MUARA TAWI  KEC. JARAI   KAB. LAHAT


DiSUSUN OLEH:

Apria Puspita Sari

   NIM  : (12350018)





JURUSAN PSIKOLOGI ISLAM
FAKULTAS USSULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT (LP2M)
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH PALEMBANG
TAHUN 2016



BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang adalah suatu aktivitas perkuliahan sebagai langkah pendidikan keterampilan keberagamaan yang dilaksanakan dalam bentuk pengabdian pada masyarakat melalui kegiatan pendidikan pengalaman lapangan, kajian sosial dan keagamaan serta pemberdayaan masyarakat, dengan desain tertentu dilakukan dalam kurun waktu tertentu untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan.
Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang angkatan ke-66 berlokasi di Desa Muara Tawi dan kabupaten Lahat dengan jumlah peserta 1885mahasiswa KKN, yang setiap kelompoknya berjumlah 8 orang mahasiswa. yang terdiri dari Fakultas Tarbiyah yang berjumlah 3 orang, Fakultas Dakwah dan Komunikasi berjumlah 1 orang, Fakultas Ushuluddin dan pemikiran islam berjumlah 1 orang, dan Fakultas syari’ah berjumlah 2 orang dan adab 1 orang.
Berbagai permasalah di masyarakat merupakan bagian penting dari KKN yang harus inventarisir dan diselesaikan. Mulai dari masalah kepemudaan, pendidikan, agama dan kemasyarakatan. Semuanya menunggu perhatian ekstra dari mahasiswa. Untuk itulah ilmu yang didapatkan secara teori dibangku kuliah menjadi penting sebagai bahan praktek di lokasi KKN.
Salah satu bidang terpenting dalam pelaksanaan KKN adalah bidang keagamaan dan pendidikan. Bidang keagamaan dan pendidikan memegang peranan penting dalam melahirkan SDM yang berkualitas. Desa Muara Tawi merupakan desa yang sangat maju dari desa yang lain dari segi perekonomian akan tetapi seluruh anak-anak di desa ini bersekolah di SDN.Jarai  yang bertepatan di kecamatan jarai, yang sekolahnya lumayan jauh dari desa Muara Tawi di dalamnya terdapat lembaga pendidikan  formal yang terdapat di Desa Jarai seperti SD, SMP, dan SMA Namun yang menjadi fokus penelitian penulis di sini adalah pengaruh pemahaman bahan bacaan islami terhadap pembentukan karakter anak-anak TPA Amar Taqwa di Desa Muara Tawi Kec.Jarai.  penelitian ini melalui pengadaan kegiatan tambahan belajar membaca dan memahami buku yang telah di baca  khususnya buku-buku bacaan islami pada anak-anak TPA, seperti buku Tuntunan Sholat, buku Do’a-do’a, juz Amma, iqro, kitab Alquran dan lainnya yang sangat berguna dalam pembentukan karekter murid-murid TPA dalam rangka peningkatan Iman dan Takwa
Setelah penulis melakukan survey kelapangan dan berdasarkan data-data yang diperoleh oleh penulis dari Ustadz yang mengajar anak-anak TPA yang ternyata masih banyak ditemukan anak-anak TPA Al-Taqwa Islam di Desa Muara Tawi yang belum memahami peran penting membaca bahan bacaan islami dan minimnya penguasaan dan pemahaman dalam membaca Alquran, sebenarnya dari pihak orang tua murid menginginkan agar anak-anaknya bisa membaca Alquran dan berakhlak mulia.
Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya faktor yang paling menonjol adalah kurangnya tenaga pengajar yang benar-benar mampu mendidik anak-anak TPA dan faktor yang kedua adalah kurangnya perhatian orang tua di rumah terhadap perkembangan karekter anaknya dalam meningkatkan iman dan takwa.
Sesungguhnya masa kanak-kanak merupakan fase yang paling subur, paling panjang, dan   paling dominan bagi seorang murabbi (pendidik/ orang-tua) untuk menanamkan norma-norma yang mapan dan arahan yang bersih ke dalam jiwa dan sepak terjang anak-anak didiknya. Berbagai kesempatan terbuka lebar untuk sang murabbi dan semua potensi tersedia secara berlimpah dalam fase ini dengan adanya fitrah yang bersih, masa kanak-kanak yang masih lugu, kepolosan yang begitu jernih, kelembutan dan kelenturan jasmaninya, kalbu yang masih belum tercemari, dan jiwa yang masih belum terkontaminasi.
Apabila masa ini dapat dimanfaatkan oleh sang murabbi secara maksimal dengan sebaik-baiknya, tentu harapan yang besar untuk berhasil akan mudah diraih pada masa mendatang, sehingga kelak sang anak akan tumbuh menjadi seorang pemuda yang tahan dalam menghadapi berbagai macam tantangan, beriman, kuat, kokoh, lagi tegar. Berangkat dari realita ini, maka diperlukan satu wadah yang dapat membina dan mendidik secara tepat untuk usia kanak-kanak, yaitu dengan mendirikan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) atau sejenisnya.
Untuk itu atas rekomindasi dari warga desa Pantai, maka berdirilah Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) Taqwa Tawi Kec Jarai, Kab Lahat. Di harapkan dapat membangkitkan “minat belajar” anak-anak yang lain dari beberapa dusun sekitar yang pada akhirnya mendapatkan respon positif dari para orang tua wali yang kemudian tergerak untuk menitipkan para putra-putrinya belajar di TPA/ Pengajian Anak-anak Jauharul Islam.  Selain itu, metode yang digunakan oleh guru TPA yang umumnya masih menggunakan metode pengajian Alquran yaitu anak-anak TPA membaca Alquran satu-persatu sedangkan gurunya menyimak, setelah semuanya sudah membaca Alquan, kemudian anak-anak TPA disuruh berdoa dan langsung pulang kerumah. Hal ini mengakibatkan materi yang disampaikan kurang lengkap dan tidak komprehensif.
Metode yang digunakan menurut pengamatan penulis terlalu monoton dan kurang adanya variasi dalam proses pengajian dari isi Alquran. Serta media ataupun sumber belajar yang dipakai oleh guru tersebut juga masih terbatas ataupun minim. Berdasarkan hal diatas, penulis tertarik untuk mengangkat permasalahan seputar pengajian Alquran yaitu dengan judul PEMAHAMAN BELAJAR MEMBACA AL-QUR’AN, BACAAN ISLAMI TERHADAP PEMBENTUKAN KAREKTER ANAK-ANAK TPA DI DESA MUARA TAWI KEC. JARAI KAB. LAHAT

B.     Rumusan Masalah
Dari pemaparan latar belakang masalah tersebut, maka dapat disimpulkan rumusan masalah yang akan dibahas, yaitu sebagai berikut :
a.       Bagaimana pemahaman bahan bacaan islami terhadap pembentukan karekter anak-anak TPA Taqwa di Desa Muara Tawi. Kab. Jarai ?
b.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi dalam memahami bahan bacaan islami anak-anak TPA Desa Muara Tawi Kab. Jarai?

C.    Tujuan penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.       Untuk meningkatkan minat baca anak-anak TPA Taqwa di Desa Muara Tawi Kac. Jarai Kab. Lahat khususnya bahan bacaan islami.
b.      Untuk menganalisa factor-faktor yang mempengaruhi dalam membaca buku bacaan islami, Untuk mengetahui penyebab rendahnya hasil belajar anak-ana TPA Amar Taqwa di Desa  Muara Tawi  Kac. Jarai Kab. Lahat dalam meningkatkan iman dan takwa.

D.    Pelakasan Penelitian
Adapun pelaksanaan penelitian ataupun kegiatan pengajian Alquran anak-anak Amar Taqwa ini secara keseluruhan dilakukan setelah anak-anak pulang sekolah. Pelaksanaan penelitian ini dimulai 8 februari 2016. tepatnya pada  waktu  Senin, Selasa, Rabu, Kamis, jum’at dan sabtu  mulai dari pukul  17.00 – 20.00 WIB. Adapun hari minggu dan tanggal merah pengajian dan belajar di Masjid Muara Tawi ini di liburkan, Dalam kesempatan ini, penulis juga bertindak sebagai tenaga pengajar/pendidik dan sekaligus peneliti dalam berlangsungnya kegiatan pengajian anak-anak TPA Taqwa di Desa Muara Tawi Kac. Jarai Kab. Lahat



D.    Metodologi Penelitian
Metode penelitian merupakan pendekatan atau cara ilmiah yang dilakukan untuk mendapatkan data dengan tujuan tertentu. Adapun dalam penulisan laporan Individu ini, digunakan beberapa metode agar diperoleh suatu hasil yang valid sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Adapun penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut:
1.      Pendekatan
Adapun pendekatan didalam penelitian ini diantaranya yaitu jenis penelitian dan sumber data, antara lain sebagai berikut:
a.          Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan komperatif dengan menggunakan pendekatan kualitatif.
b.         Sumber Data
1)         Data Primer
Data primer adalah data yang didapat dari sumber pertama baik individu atau perorangan. Adapun data pokok ini adalah dari beberapa referensi kitab atau buku.
2)      Data Sekunder
Data sekunder adalah data primer yang telah diolah lebih lanjut kemudian disajikan, baik oleh pihak pengumpul data primer atau oleh pihak lain. Adapun data  sekunder atau data tambahan pelengkap pada penelitian ini adalah bersumber dari buku-buku lainnya yang berkaitan dengan pembahasan i ini, serta wawancara dari peneliti dengan informan yaitu pihak jamaah masjid Taqwa desa Muara Tawi.
Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini, penulis menggunakan empat cara yaitu anatara lain:
a.       Studi kepustakaan adalah dengan menggunakan kajian studi kepustakaan berupa mengambil beberapa sumber-sumber penelitian ini dari buku yang berkaitan tentang pemahaman tentang al’quran
b.      Dokumentasi yaitu dengan mengumpulkan data-data dokumen yang berkenaan dengan keadaan belajar mengajar di  Masjid Taqwa desa Muara Tawi.
c.       Wawancara adalah pertemuan antara peneliti dengan informan yaitu ustad dan anak-anak  masjid Taqwa dan tokoh alim ulama diMasjid Taqwa desa Muara Tawi.

2.      Analisis Data
Analisis data adalah data yang telah berhasil dihimpun baik itu dari pustaka dan penelitian langsung kepada pihak  jamaah Masjid Taqwa desa Muara Tawi, danakan dianalisis dengan menggunakan dua metode, adapun metode yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah
a.         Metode Deskriptif
Metode deskriptif adalah sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek atau obyek penelitian. Adapun deskriptif pada penelitian ini adalah dengan menggambarkan tentangkeadaan belajar mengajar didesa Muara Tawi.
b.         Metode Komperatif
Metode komperatif  yaitu digunakan untuk mengkaji tentang pembentukan karakter anak-anak.

E.    Sistematika Penulisan
Sistematika Penulisan Laporan Individu ini terdiri dari lima bab, masing-masing bab membahas permasalahan yang diuraikan menjadi beberapa sub bab untuk mendapatkan gambaran yang jelas serta mempermudah dalam pembahasan, secara global sistematikalaporan individu ini adalah sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah,metodologi penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II            : LANDASAN TEORI
Bab ini menjelaskan tentang landasan teori berkenaan dengan penelitian laporan ini dalam hal ini isi dari landasan teori antara lain adalah penjelasan tentang carabelajar dan pembentukan karakter pada anak-anak.
BAB III          : KONDISI OBJEKTIF LOKASI PENELITIAN
Bab ini membahas mengenai tentang keterangan terkait wilayah yang menjadi objek penelitian dan dalam hal ini berisi tentang Profil Masjid Taqwa Muara Tawi dan bagaimana anak-anak belajar setiap harinya Masjid Taqwa desa Muara Tawi.

BAB IV          : PEMBAHASAN
Bab ini membahas mengenai pembahasan yaitu metede pembentukan karakter dalam pendidikan islam

BAB V            : PENUTUP
Bab ini merupakan bab terahir yang berisi kesimpulan hasil penelitian.


BAB I1
Landasan Teori

A.  KONSEP DASAR KEGIATAN PENGAJIAN ALQURAN ANAK-ANAK TAMAN PENDIDIKAN ALQURAN
1.      Konsep Taman Pendidikan Alquran
Taman pendidikan alquran menurut aan karunia (2005:1) yaitu suatu lembaga/ sekolah yang berupaya mendidik anak usia 7-12 tahun, supaya santri dapat membaca, menulis, memahami dan mengamalkan alquran.
Hakikat taman pendidikan alquran adalah upaya membantu mengembangkan potensi anak didik secara optimal kearah pembentukan sikap, pengetahuan dan keterampilan keagamaan melalui pendekatan yang disesuaikan dengan lingkunagan dan taraf perkembangan anak berdasarkan tuntunan alquran dan sunnah rasul melalui program pendidikan yang berkelanjutan.
Taman pendidikan alquran menurut tim penelitian dan pengembangan LIQA (2007: 4) bahwa taman pendidikan alquran merupakan lembaga pendidikan bagi anak untuk melatih kecerdasan berpikir (IQ), kecerdasan emosi (SQ), kecerdasan ekonomi (EQ), dan kecerdasan sosial (SQ). Taman pendidikan Alquran adalah bagian dari PEMMMAS (pemberdayaan masjid Masyarakat) yang di dalamnya tercakup majelis taklim pengajian dan TPA.
Dari bebrapa pendapat diatas, dapat dijelaskan bahwa taman pendidikan alquran merupakan sebagai lembaga pendidikan islam yang berupaya dalam membelajarkan anak/santri agar dapat membaca, menulis, memahami dan mengamalkan alquran minimal mampu melaksanakan ibadah sehari-hari dalam bentuk bisa dan biasa sholat membaca doa-doa harian, memiliki keterampilan dalam pengatahuan umum serta ilmu pengetahuan teknolog
2. Tujuan Taman Pendidikan Alquran (Tpa)
Menurut tim peneliti dan pengembangan pendidikan LIQA (2004:3), pada awalnya pendirian tman pendidian alquran merupakan pengajian yang dimodernisir dengan tujuan agar:
a.  Anak-anak lebih serius kalau belajar di TPA dibandingkan dengan pengajian malam
b. Anak-anak lebih cepat bisa membaca dan menulis alquran
c. Tempat pengajian tidak saja berpusat di masjid, tetapi menebar di berbagai tempat  sehingga dimana-mana terdapat sekumpulan anak-anak yang mau mempelajari alquran.
Adapun tujuan taman pendidikan alquran menurut lim abdul karim (2005:5) sebagai berikut:
A. Tujuan insttitusional, sebagai sebuah institusi TPA mempunyai tujuan untuk menghasilkan anak didik yang sholeh yang memiliki perkembangan yang optimal di bidang fikir (kognitif), di bidang ziklir (sikap, efektif) dan amal (keterampilan keagamaan, psikomotor) atau menghasilkan anak didik yang memiliki kepribadian integratif.
B. Tujuan kurikuler
Inti dari proses pendidikan, maka tujuan institusional TPS harus dijabarkan menjadi rumusan tujuan kurikuler:
  • Santri memiliki sikap mengagumi dan mencintai alquran sebagai bacaan istemewa dan pedoman utama. 
  •  Santri mampu membaca alquran dengan lan
  • car dan fasih serta memahami hukum-hukum bacaannya berdasarkan kaidah ilmu tajwid.
  •  Santri bisa dan biasa melaksanakan sholat lima watu dengan tata cara yang benar serta menyadari sebagai kewajiban sehari-hari.
  •    Santri hafal sejumlah surat pendek, ayat pilihan dan doa harian
  •      Santri menguasai dasar-dasar kaidah penulisan huruf Arab dengan benar.
3.  Target Taman Pendidikan Alquran (Tpa)
Dalam buku ringkasan pedoman tka-tpa, menurut budiyanto (2003:4) ada beberapa target di dalam pembellajaran taman pendidian alquran yang harus tercapai. Target tersebut dibedakan menjadi dua yaitu target pokok (yang harus tercapai) dan target penunjang (yang diharapkan bisa tercapai). Target pokoknya ada dua, yaitu santri:
a. Mampu gemar membaca alquran
b. Mampu dan rajin melakanakan sholat fardhu
Sedangkan target penunjangnya, satri:
1. Hafal seluruh bacaan sholat
2  Haffal 12 doa sehari-hari
3. Hafal 12 surat pendek
4. Hafal enam kelompok ayat pilihan
5. Mampu menulis (menyalin) ayat alquran
6. Mengetahui dasar-dasar agama (aqidah akhlak)

4.      Struktur Organisasi
Dalam buku ringkasan pedoman Tka-Tpa, menurut budiyanto (2003:7) struktur organisasi bersifat luwes dan kondisional dalam taman pendidikan alquran minimal ada direktur/kepala tpa, sekretaris (TU), bendahara dan wali kelas.

5.  Materi Pelajaran
Dalam buku ringkasan pedoman tka-tpa, menurut budiyanto (2003:5) materi pelajaran dalam taman pendidikan alquran dibedakan menjadi beberapa materi pelajaran yaitu materi pokok dan materi penunjang. Materi pokok yaitu: “Belajar membaca alquran (dengan buu iqro), Membaca buku-buku islami dan mempelajarinya dan Sholat berjamaah”.

       B. Konsep bahan bacaan islami
1.  Definisi Buku Dan Media Bacaan
Berdasarkan tinjauan pustaka dari  Mayke S. Tedjasaputra dalam bukunya yang berjudul  Bermain, Mainan, dan Permainan  untuk Pendidikan Usia Dini (2001, p65), ada 3 media massa yang dapat dijadikan bahan bacaan untuk anak, yaitu buku, surat kabar, dan majalah. Yang paling digemari oleh anak-anak adalah media buku, sedangkan surat kabar menempati urutan yang terakhir. Anak-anak pada umumnya menyukai buku dalam ukuran yang kecil sehingga mudah digunakan atau dibawa.
Selain mengharuskan pembelajaran kecerdasaan berfikir sedini mungkin, kebanyakan masyarakat menuntut pendidikan spritual yang diutamakan, karena dengan pendidikan spritual atau keagamaan itu akan mampu menjadian karekter anak-anak bangsa yang baik, beriman, bertakwa dan berbudi yang luhur. Untuk itu diperlukan bahan bacaan islami atau buku-buku islam dalam hal ini pada anak-anak TPA Jauharul Islam yang dapat mendukung terlaksananya peningkatan mutu karekter spritual anak-anak bangsa tersebut.

2. Psikologi Anak
Anak-anak, khususnya pada usia 5 sampai 7 tahun memiliki dunianya sendiri. Mereka   erat dengan masa bermain. Mereka juga mempunyai kepribadian  yang khas, yang tidak sama dengan kepribadian orang dewasa sehingga dapat dikatakan bahwa mereka (anak-anak) hidup dalam dunia yang penuh khayalan. Pemikiran dan daya tanggapnya masih terbatas dan belum mampu berbahasa panjang lebar dan menikmati keindahan berbahasa itu sendiri (Hardjana HP, 2006,. Tak lepas dari anak-anak, mainan menjadi kebutuhan penting dalam masa pertumbuhannya.
Stevanne Auerbach dalam buku Smart Play Smart Toy, 2007, membedakan cirri psikologis dan kebutuhan mainan menurut kelompok umur dari anak itu sendiri, yaitu kelompok Bayi (umur 6 bulan pertama sampai 1 tahun), kelompok Balita ( umur 1 sampai 3 tahun), kelompok Prasekolah (umur 3 sampai 5 tahun), kelompok AnakSekolah Dasar (umur 6 sampai 8 tahun), dan kelompok Anak yang Lebih Tua (umur 9 sampai 12 tahun). Sesuai dengan target demografi, yaitu anak-anak berusia 5 sampai 7 tahun, maka di bawah ini dijabarkan ciri-ciri psikologis yang meliputi fisik, emosi, dan mental.
a). Fisik Umur 5 Tahun: Gesit,Tenang dengan kemampuan motoris terkontrol,Mengenal warna-warna primer, Menghitung dengan tangan (antara dua dan lima) Pertumbuhan anak perempuan sekitar satu tahun lebih maju daripada laki-laki.
b). Umur 6 Tahun: Aktif dan ribut,Pertumbuhan fisik melambat,Gigi permanen mulai muncul
c). Umur 7 Tahun: Sering bangkit dari duduk, menjadi agak ceriwis, Berminat dalam pengembangan beragam kemampuan motoris ,Menunjukkan luapan perilaku aktif yang tiba-tiba dalam beberapa Tugas Emosi.
d). Umur 5 Tahun: Bertanya-tanya tentang dirinya dan orang lain, Saat berusia 4 tahun terbata-bata dalam berbicara usia 5 tahun dapat berhenti setelah menyelesaikan suatu pemikiran, Menemukan bahwa dunia riil cukup memberi kesenangan baru,  karena telah mengetahui apa yang merupakan fantasi dan apa yang bukan.
e). Umur 6 tahun : Tidak jelas (ambivalen), Menangkap ide tentang baik dan buruk, Kesulitan dalam membuat keputusan.
f). Umur 7 tahun : Kurang percaya diri, Lebih serius dan bijaksana mengenai kehidupan ,Tidak suka kalah dalam permainan Mental.
-Menikmati dongeng Dari tonggak perkembangan di atas, maka dapat diketahuibahwa masa-masa prasekolah (anak-anak berumur 5 sampai 7 tahun) memiliki daya imajinasi yang
cepat berkembang dan dapat digunakan sebagai acuan dalam target psikografi buku ini sebagai target


                                                                 BAB III
KONDISI OBJEKTIF LOKASI PENELITIAN

A.    Profil Masjid Taqwa Desa Muara Tawi
Desa Muara Tawi mempunyai sebuah Masjid atau tempat pusat peribadatan Umat Islam, tempat taman pendidikan Al-Qur’an anak-anak  dan majelis ilmu ta’lim serta tempat pusat silahturrahmi masyarakat desa Muara Tawi yaitu Masjid Taqwa.
Masjid Taqwa, desa Muara Tawi, Kec. Jarai Lahat Sumsel
Masjid Taqwa adalah masjid yang terletak di jalan raya Pagaralam – `Pendopo/Bengkulu, dusun II, Desa Muara Tawi, Kec. Jarai Kabupaten Jarai, Provinsi Sumatera Selatan.
Masjid taqwa dibangun oleh masyarakat sekitar lebih kurang tahun 1930-an oleh masyarakat sekitar desa Muara Tawi, dan bisa menampung sampai 300 jamaah serta kondisi masjid dalam kondisi baik.
Dan kepengurusan Masjid Taqwa Muara Tawi dipimpin oleh ketua Masjid Bapak Masri, dibawah penasehat Kepala Desa dan Kasi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) yang dipimpin oleh bapak Arwanto.
Adapun susunan pengurus Masjid Taqwa Desa Muara Tawi adalah sebagai berikut:
  Pelindung Penasehat                              :  Nilwan (Kepala Desa)
  Ketua                                                     :  Masri. M
Sekretaris                                              :  Indri
Bendahara                                             :  Sukirno
  Seksi-Seksi                                                      
-       Seksi Kegiatan Ibadah (Imarah)
Ketua                                                    :  Sarupi
Sekretaris                                              :  Ibnu Hajar
Anggota                                              :  1. Jamaludin
                                                              2. Waharudin
                                                               3. Hutami
      Seksi Administrasi    (idara)
Ketua                                                  :  Harnoto
Sekretaris                                            :  Sulaiman
Anggota                                              :  1. Muzahirin
                                                               2. Zazili Ikbal
                                                               3. Hartanudi
      Seksi Pemeliharaan (ri’ayah)
Ketua                                                  :   Nopa Harianto
Sekretaris                                            :   Rizali
Anggota                                              :   1. Hingki Sisko
                                                                2. Haryono
                                                                3. Herwandi
                                                                4. Asman

B.     Masyarakat dan Jamaah Masjid Taqwa Muara Tawi
Desa Muara Tawi, terletak disebelah utara dari ibu kota kecamatan jarai, kabupaten Lahat Sumatera Selatan. Desa ini berjarak 1 Km dari kecamatan, 73 Km dari ibu kota kabupaten Lahat dan 350 Km dari ibu kota provinsi Sumatera Selatan. Dan dipimpin oleh kepala desa yaitu bapak Nilwan.
Menurut sejarah penduduk pertama desa Muara Tawi berasal dari desa Bangke Tengah Padang lebih kurang Tahun 1923 M, Senamang Balas dan Meskat pindah dari Bangke tengah Padang ke permukiman yang baru, tempat permukiman baru ini merupakan tempat bermuaranya Air Suban dan tempat dimakamkanya Puyang Palembang yang bernama Tawi, dari sinilah ide pemberian nama tempat pemukiman yang baru tersebut dengan nama Muara Tawi.
Masyarakat desa Muara Tawi atau Jamaah lingkungan Masjid Taqwa desa Muara Tawi, berpenduduk lebih kurang 500 jiwa atau 125 KK, dan mayoritas 100 % penduduk adalah menganut agama islam.


 BAB IV
Pembahasan

A.    Metode Pembentukan Karakter dalam Pendidikan Islam
Kepercayaan akan adanya fitrah yang baik pada diri manusia akan mempengaruhi implikasi-implikasi penerapan metode-metode yang seharusnya diterapkan dalam proses belajar mengajar. Dalam pendidikan Islam banyak metode yang diterapkan DITPA TAQWA dan digunakan dalam pembentukan karakter Anak-Anak. Menurut An-nahlawy metode untuk pembentukan karakter dan menanamkan keimanan, yaitu: 
1.    Metode perumpamaan
Metode ini adalah penyajian bahan pembelajaran dengan mengangkat perumpamaan yang ada dalam al-Qur’an. Metode ini mempermudah peserta didik dalam memahami konsep yang abstrak, ini terjadi karena perumpamaan itu mengambil benda konkrit seperti kelemahan orang kafir yang diumpamakan dengan sarang laba-laba, dimana sarang laba-laba itu memang lemah sekali disentuh dengan lidipun dapat rusak. Metode ini sama seperti yang disampaikan olehAbdurrahman Saleh Abdullah
2.  Metode keteladanan
Metode keteladanan, adalah memberikan teladan atau contoh yang baik kepada peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Metode ini merupakan pedoman untuk bertindak dalam merealisasikan tujuan pendidik. Pelajar cenderung meneladani pendidiknya, ini hendaknya dilakukan oleh semua ahli pendidikan,. dasarnya karena secara psikologis pelajar memang senang meniru, tidak saja yang baik, tetapi yang tidak baik juga ditiru.
3.  Metode ibrah dan mau`izah
Metode Ibrah dan Mau’izah. Metode Ibrah adalah penyajian bahan pembelajaran yang bertujuan melatih daya nalar pembelajar dalam menangkap makna terselubung dari suatu pernyataan atau suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia kepada intisari sesuatu yang disaksikan, yang dihadapi dengan menggunakan nalar. Sedangkan metode Mau’izah adalah pemberian motivasi dengan menggunakan keuntungan dan kerugian dalam melakukan perbuatan
4.    Metode Hiwar Qurani/Kitabi
Hasbi Assidiqy seperti yang dikutip oleh Wawan Susetya mendefinisikan salat menjadi empat pengertian, pada definisi kedua ia memaknai salat sebagai hakikat salat (dalam perspektif batin) yaitu berhadapan hati (jiwa) kepada Allah secara yang mendatangkan takut padaNya, serta menumbuhkan di dalam hati jiwa rasa keagungan kebesaran-Nya dan kesempurnan kekuasaan-Nya. Makna lainya ialah: hakikat salat yaitu menzahirkan hajat dan keperluan kita kepada Allah yang kita sembah dengan perkataan dan perbuatan.
Bila kita pahami dalam proses shalat terdapat dialog antara Allah dan hambaNya, seperti dalam surat Fatihah terjadi dialaog yang sangat dalam antar hamba dan Allah SWT. Di dalam surat ini manusia memohon perlindungan kepada Allah dari godaan sayithan, menyatakan Allah itu yang Maha Pengasih dan Penyayang, memuji Allah sebagai penguasa mutlak alam semesta, menyatakan bahwasanya Allah penguasa mutlak hari kiamat, manusia mengakui kelemahannya dengan penyataan kepada-Mu kami menyembah, hanya kepadaMulah kami meminta pertolongan, manusia memohon petunjuk kepada Allah dalam menjalani kehidupan sebagaimana orang-orang yang Allah telah beri nikmat, dan berlindung dari kesesatan.
Metode dialog ini begitu menyadarkan kita akan kelemahan dan kekurangan. Dalam pendidikan seorang guru perlu melakukan dialog untuk menegtahui perkembangan siswa dan mengidentifikasi masalah-masalah yang dapat menjadi factor penghambat belajar. Untuk itu seorang guru harus memiliki sikap bersahabat, kasih sayang kepada peserta didik.
Nurcholis Majid pernah menyatakan lebih jauh makna salat dalam kehidupan sehari-hari ialah mengandung ajaran berbuat amal saleh kepada manusia dan lingkungan, sesuai pesan-pesan salat sejak takbir hingga salam.
Dari pemaparan di atas dapat kita pahami bahwa metode hiwar (dialog) sangat efektif untuk  menjalin komunikasi dan hubungan social antara guru dan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik. Bila komunikasi multi arah telah terbangun maka siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik dan tujuan pendidikan dapat terwujud.
5.    Metode Pembiasaan
Metode pembiasaan atau dalam istilah psikologi pendidikan dikenal dengan istilah operan conditioning. Siswa diajarkan untuk membiasakan berprilaku terpuji, giat belajar, bekerja keras, berrtanggung jawab atas setiap tugas yang telah diberikan.Salat dilakukan 5 kali sehari semalam ialah membiasakan umat manusia untuk hidup bersih dengan symbol wudhu, disiplin waktu dengan ditandai azan disetiap waktu salat, bertanggung jawab dengan simbol pengakuan di dalam bacaan doa iftitah "sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku untuk Allah", doa ini memberikan isyarat berupa tanggung jawab atas anugrah yang Allah telah berikan. Pada saat ruku dan sujud umat muslim diajarkan untuk bersikap rendah hati. Sikap rendah hati inilah merupakan awal kemulian seseorang. Di dalam hadits Qudsi Allah berfirman:

"tidaklah aku menerima salat setiap orang, Aku menerima slat dari orang yang merendah demi ketinggianku, berkhusyuk demi keagunganku, mencegah nafsunya demi larangku, melewatkan siang dan malam dalam mengingatku, tidak terus menerus dalam pembangkanagan terhadapku, tidak bersikap angkuh terhadap mahlukku, dan selalu mengasihani yang lemah dan menghibur orang miskin demi keridhoanku. Bila ia memanggilku, aku akan memberinya. Bila ia bersumpah dengan namaku aku akan membuatnya mampu memenuhinya. Akan aku jaga ia dengan kekuatanku dan kubanggakan dia diantara malaikatku. Seandainya aku bagi-bagikan nurnya untuk seluruh penghuni bumi, niscaya akan cukp bagi mereka. Perumpamaannya seperti surga firdaus, bebuahannya tidak akan rusak dan kenikmatannya tidak akan sirna" (H.R. Muslim).

Dari matan hadis ini dapat dipahami bahwa, pelaksanaan salat tidak hanya sekedar melaksanakan kewajiban pada waktu-waktu salat, melainkan tetap memaknai salat sepanjang aktivitas sehari-hari.
Imam fachrurrazi menjelaskan kata shalatihim daaimuun ialah orang-orang yang menjaga salat dengan menunaikannya diwaktunya masing-masing dan memperhatikan hal-hal yang terkait dengan kesempurnaan salat. Hal-hal tersebut baik yang dilakukan sebelum salat dan setelah salat.
Metode pembiasaan ini perlu diterapkan oleh guru dalam proses pembentukan karakter, bila seorang anak telah terbiasa dengan sifat-sifat terpuji, impuls-impuls positif menuju neokortek lalu tersimpan dalam system limbic otak sehingga aktivitas yang dilakukan  oleh siswa tercover secara positif. Untuk itu pihak penyelenggara sekolah sepantasnya menyediakan ruangan dan waktu untuk siswa melaksanakan salat secara berjamaah. Dengan melaksanakan salat berjama`ah minimal Zuhur dan Ashar karena kedua waktu sholat ini masih dalam waktu pembelajaran, atau shalat Duha, siswa siswi dididik beradaptasi dengan lingkungan sosialnya, pada saat salat berjama`ah mereka dapat belajar bagaimana berkata yang baik, bersikap sopan dan santun, menghargai saudaranya sesama muslim, dan terjalinnya tali persaudaraaan. Bila susasana seperti ini telah dibiasakan mereka lakukan kemungkinan tidak akan gagap menghadapi persoalan kehidupan di masyarakat. Bahkan mereka dapat menjadi tauladan bagi masyarakatnya.
6.    Metode Targib dan Tarhib
Metode ini dalam teori metode belajar modern dikenal dengan reward dan funisment. Yaitu suatu metode dimana hadiah dan hukuman menjadi konsekuensi dari aktivitas belajar siswa, bila siswa dapat mencerminkan sikap yang baik maka ia berhak mendapatkan hadiah dan sebaliknya mendapatkan hukuman ketika ia tidak dapat dengan baik menjalankan tugasnya sebagai siswa.
Begitu pula halnya salat, saat seorang melakukan salat dengan baik dan mampu ia implementasikan dalam kehidupan sehari-hari maka ia mendapatkan kebaikan  baik dari Allah dan masyarakat sebagaimana yang telah dijelaskan dimuka hadis riwayat Muslim "surga firdaus untuk orang-orang yang dapat mengamalkan salat dengan baik dan benar". Sebaliknya bagi mereka yang melalaikan dan tidak melakasanakan salat neraka weil dan Saqor baginya.
Metode reward dan funishment ini menjadi motivasi eksternal bagi siswa dalam proses belajar. Sebab, khususnya anak-anak dan remaja awal ketika disuguhkan hadiah untuk yang dapat belajar dengan baik dan ancaman bagi mereka yang tidak disiplin, mayoritas siswa termotivasi belajar dan bersikap disiplin. Hal ini bisa terjadi karena secara psikologi manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat baik dan mendapatkan balasan dari perbuatan baiknya.

Belajar Mengaji Al-Qur'an adalah sebuah aplikasi ringan untuk memudahkan bagi siapa pun, anak-anak, remaja, hingga orang tua, yang hendak mempelajari bagaimana cara mengaji Al-Qur'an yang disusun secara sistematis mulai dari yang paling dasar hingga ke level yang lebih tinggi.
Belajar Mengaji Al-Qur'an dilengkapi dengan tampilan menarik yang ditujukan para pengguna, khususnya anak-anak, untuk lebih semangat dalam belajar membaca Al-Qur'an, menuliskan huruf-huruf Arab (Al-Qur'an), dan dilengkapi dengan audio yang membantu dalam pengucapan yang benar.
Berikut adalah materi pembelajaran mengenai Belajar Mengaji Al-Qur'an:
- Huruf Hijaiyah
- Iqra
- Vokal

BAB V
KESIMPULAN
1.    Dalam pendidikan karakter ini, segala sesuatu yang dilakukan guru harus mampu mempengaruhi karakter peserta didik sebagai pembentuk watak peserta didik, guru harus menunjukan keteladanan
2.     Karakter Peserta didik yang diharapkan yaitu memiliki karakter mulia memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai yang positif dan mulia dan selalu berusaha untuk melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan, dirinya, sesama lingkungan bangsa dan negara bahkan terhadap negara Internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya.
3.   Dalam pendidikan Islam banyak metode yang diterapkan dan digunakan dalam pembentukan karakter. Menurut An-nahlawy metode untuk pembentukan karakter dan menanamkan keimanan di antara metode perumpamaan,  metode keteladanan, metode kebiasaan, metode ibrah mau’izah, metode hiwar qurani/kitabi dan metode targid dan tarhib.


Daftar Pustaka
 A.N, Firdaus 325 Hadis Qudsi Pilihan, Jakarta : CV. Pedoman Ilmu, 1990
Kemendiknas. 2010. Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah MenengahPertama.  JakartaDepartemen Pendidikan Nasional.
Khodijah Nyayu.2014. psikologi pendidikan . Jakarta : rajawali press.
Mustagim. 2004 psikologi kepribadian.yogyakarta : pustaka pelajaran
Tafsir Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung : Rosda Karya,
Wawan Susetya, Sebuah Kerinduan Salat Khusyuk,Yogyakarta : Tugu Publisher

 Mustagim. 2004 psikologi kepribadian.yogyakarta : pustaka pelajar
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
loading...