Thursday, 31 March 2016

Istihsan Menurut Ulama Ushul Fiqh dan Ulama Mazhab

Istihsan Menurut Ushul Fiqh dan Ulama Mazhab
Makalah Ushul Fiqh
Oleh: Yuni Nopita Sari (Tarbiyah, PAI-Fiqh) UIN Raden Fatah Palembang


PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Sebagaimana kita ketahui, sumber ajaran Islam yang pertama adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an itu merupakan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, tidak sekaligus tetapi dengan cara berangsur-angsur sedikit demi sedikit dimulai di Makkah dan disudahi di Madinah. Atas dasar wahyu inilah Nabi menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul dalam mayarakat Islam ketika itu.
         Ternyata tidak semua persoalan yang dijumpai masyarakat Islam ketika itu dapat diselesaikan dengan wahyu. Dalam keadaan seperti ini, Nabi menyelesaikan dengan pemikiran dan pendapat beliau dan terkadang pula melalui permusyawaratan dengan para sahabat. Inilah yang kemudian dikenal dengan sunnah Rasul. Memang Al-Qur’an hanya memuat prinsip-prinsip dasar dan tidak menjelaskan segala sesuatu secara rinci.
Dengan demikian persoalan yang belum ada nashnya dalam Al-Qur’an dan hadist, para ulama mencoba memberikan solusi atau di istinbatkan hukumnya dengan berbagi metode, walaupun metode dalam berijtihad berbeda satu sama lain, ada yang memakai metode misalnya Istihsan tetapi ulama lain menolaknya.
Dalam makalah ini, penulis akan memaparkan beberapa hal yang berkaitan dengan masalah al-Istihsan,  pandangan para ulama tentangnya, serta beberapa hal lain yang terkait dengannya. Untuk pembahasan selengkapnya akan diuraikan pada halaman selanjutnya.

B.  Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian istihsan menurut ulama ushul fiqih?
2.    Apa saja pembagian istihsan menurut ulama hanafiah?
3.    Bagaimana kehujjahan istihsan?
4.    Bagaimana tanggapan ulama yang tidak memakai metode ijtihad dengan Istihsan­?

PEMBAHASAN

1. Istihsan
a. Pengertian Istihsan
Secara etimologi istihsan berarti menganggap sesuatu itu baik. Tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ulama ushul fiqh dalam mempergunakan lafal istihsan.[1] Adapun pengertian istihsan menurut istilah ushul fiqh, yaitu sebagai berikut:
ü Menurut Al-Ghazali dalam kitabnya Al-mustasfa “ istihsan adalah semua hal yang dianggap baik oleh mujtahid menurut akalnya.[2]
ü Menurut mazhab Hanafi istihsan secara istilah ialah berpindahkan seseorang mujtahid dari hal penetapan hukum pada suatu masalah yang secara substansial dengan apa yang telah ditetapkan karena terdapatnya alasan yang lebih kuat yang menghendaki perpindahan tersebut.[3]
ü Al-Muwafiq Ibnu Qudamah Al-Hambali berkata, “ istihsan adalah suatu keadilan terhadap hukum dan pandangannya karena adanya dalil yang tertentu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.[4]
ü Menurut Al-Hasan Al-Kurkhi Al-Hanafi, “ istihsan adalah perbuatan adil terhadap permasalahan hukum dengan memandang hukum yang lain, karena adanya suatu yang lebih kuat yang membutuhkan keadilan.[5]
Jadi dari beberapa pendapat ulama diatas dapat saya simpulkan bahwa istihsan adalah mencari yang terbaik untuk di ikuti, intinya kita boleh meninggalkan hukum yang sudah ada kemudian mengikuti hukum yang lain atau yang baru dengan syarat ada dalilnya atau dengan pengecualian bahwa itu adalah satu-satunya jalan yang harus dilakukan, atau dengan kata lain istihsan disini karena bertolak dari qiyas yang nyata, samar atau hukum umum kepada ketentuan hukum yang lain. Tapi pemalingan ketentuan hukum disini hanya satu tujuan untuk kemaslahatan orang banyak dan menolak suatu kerusakan.

2. Pembagian Istihsan menurut ulama Hanafiah
Pembagian Istihsan menurut Ulama Hanafiyah terbagi kepada lima macam yaitu:
a.  Istihsan sunnah
Istihsan yang disebabkan oleh adanya ketetapan sunnah yang harus meninggalkan dalil qiyas pada kasus yang bersangkutan. Contoh sahnya puasa orang yang makan atau minum disiang hari karena lupa. Menurut qiyas puasa itu batal. Akan tetapi qiyas disini harus ditolak karena berlawanan dengan riwayat hadist.
Jadi dapat saya simpulkan dari istihsan sunnah bahwasannya para mujtahid melakukan penyimpangan hukum dengan sunnah yang telah ada artinya ada landasan yang syari’ terhadap suatu masalah dan dikecualikan berdasarkan istihsan karena ada nash atau sunnah khusus yang memperbolehkannya, sama hanya dengan contoh di atas orang makan ketika puasa karena lupa itu batal menurut qiyas, namun ada nash yang mengkhususkan makan karena lupa itu tidak membatalkan puasa.
b.  Istihsan ijma’
Istihsan yang meninggalkan qiyas karena adanya ijma’ ulama yang menetapkan hukum yang berbeda dari tuntutan qiyas. Contoh, ketetapan ijma’ tentang sahnya akad istihshana’ (pesanan). Menurut qiyas semestinya akad itu batal sebab barang yang diakadkan belum ada. Akan tatapi, masyarakat seluruhnya telah melakukannya, maka hal itu dipandang sebagai ijma’ atau urf am (tradisi) yang dapat mengalahkan dalil qiyas.[6]
Jadi dapat saya simpulkan istihsan ijma’ disini adalah adanya fatwa atau keputusan mujtahid dalam menetapkan suatu hukum namun berlawanan dengan kondisi yang ada. Sama halnya dengan contoh diatas tentang akad pemesanan.
Misalnya pemesanan suatu barang tidak di sahkan karena wujudnya belum ada. Namun para mujtahid bersikap diam atau tidak menolak dari yang dilakukan masyarakat, karena praktek bermuamalah seperti ini sudah berjalan sejak lama tanpa penolakkan dari ahli ijtihad.
c. Istihsan darurat
Istihsan yang disebabkan karena adanya darurat (terpaksa) karena adanya suatu masalah yang mendorong mujtahid untuk meninggalakan dalil qiyas. Contoh: membersihkan kolam atau sumur. Menurut qiyas tak mungkin kita menuangkan air kedalam kolam atau sumur supaya bersih. Oleh Karena itu ditetapkanlah bahwa sumur itu disucikan dengan menimbakan airnya, karena terpaksa berbuat demikian karena tak dapat kita lakukan yang lain dari pada yang itu.[7]
Jadi dapat saya simpulkan bahwa istihsan darurat disini adalah istihsan yang dilakukan dan meninggalkan ketentuan hukum qiyas karena keadaanya atau kondisi yang ada darurat tidak ada jalan lain yang dilakukan kecuali dengan jalan tersebut. Sama halnya dengan contoh diatas dilakukan karena keadaan yang mendesak untuk kemaslahatan orang banyak.
d. Istihsan bi al-Qiyas al-Khafi 
 Yaitu memalingkan suatu masalah dari ketentuan hukum qiyas yang jelas kepada ketentuan qiyas yang samar, tetapi keberadaannya lebih kuat dan lebih tepat untuk diamalkan.Contohnya : tentang aurat wanita. Sesungguhnya aurat wanita itu ialah mulai dari ujung kakinya, kemudian dibolehkan bagian tubuhnya sekedar dibutuhkan. Hal seperti ini mendapat perlawanan antara dua qiyas:
1.    Ditetapkan berdasarkan kaidah yang jelas tentang keadaan wanita melihatnya bisa menimbulkan fitnah
2.    Adanya keadaan yang menimbulkan marsyaqqah (keadaan yang mendesak) dalam keadaan seperti ini pengobatan ketika tidak ada wanita yang khusus untuk itu, maka digunakanlah ‘illiat (alasan) yang membawa kepada kemudharatan pada bagian ini.
Jadi dapat saya simpulkan bahwa istihsan qiyas khafi adalah istihsan yang memalingkan suatu masalah kepada ketentuan qiyas yang samar-samar. Karena qiyasnya berlawanan karena keberadaannya lebih kuat dan lebih tepat untuk diamalkan. Seperti contoh diatas kaidah pertama mendapat perlawanan jika keadaan yang mendesak karena suatu penyakit maka alasannya lebih kuat untuk kemaslahatan yang bisa menimbulkan kemudhoratan.
e. Istihsan bi al-Urf  
Yaitu penyimpangan hukum yang berlawanan dengan ketentuan qiyas, karena adanya Urf yang sudah dipraktikkan dan sudah dikenal dalam kehidupan masyarakat. Contohnya seperti menyewa wanita untuk menyusukan bayi dengan menjamin kebutuhan makan, minum dan pakaiannya.
Dapat saya simpulkan bahwa istihsan bi al-Urf penyimpangan hukum yang berlawanan dengan ketentuan qiyas namun dipraktikkan dan sudah dikenal dalam kehidupan bermsayarakat, seperti contoh diatas diperboleh menyewa wanita untuk menyusuhi bayi dengan kesepakatan awal dengan kata lain dibayar dengan upah sudah diketahui yang memenuhi kebutuhan makan, minum dan lain sebagainya.

3.    Contoh Istihsan Ulama Hanafi
Antara contoh penggunaan istihsan menurut ulama Hanafiah terbagi kepada dua yaitu:
a.    Istihsan yang dalilnya qiyas khafi
b.    Istihsan yang pemgecualian dalilnya adalah maslahah
a.    Istihsan yang dalilnya qiyas khafi.
Contohnya adalah seperti berikut :
1.    Wanita berhaid harus membaca Al-Quran berdasarkan istihsan dan haram berdasarkan al-Qiyas. Pengharamannya berdasarkan kepada al-Qiyas, kerana haidnya di qiyaskan dengan orang yang berjima’ yang mana illah            (sebabnya) sama yaitu kedua-duanya sama dalam keadaan tidak suci dan diharamkan membaca al-Quran. Walau bagaimanapun, hukumnya adalah harus bagi seorang perempuan yang dalam keadaan haid untuk membaca Al-Quran berdasarkan istihsan. Oleh itu wanita yang dalam keadaan haid diharuskan membaca Al-Quran, jika tidak berarti dalam tempo haid yang lama itu ia tidak dapat beibadah dengan membaca Al-Quran, sedangkan lelaki dapat membacanya sepanjang masa.
2.     Menurut ulama’ Hanafiah dan menurut al-Qiyas terang ( jaliy ), sisa burung elang adalah najis dan haram, kerana ia diqiyaskan dengan sisa binatang buas yang lain, seperti harimau dan serigala. Berdasarkan dagingnya haram dimakan. Menurut Istihsan pula, sisa burung elang dan burung penyambar yang lain tidak najis, kerana binatang tersebut makan dan minum menggunakan paruh dan ia adalah suci apabila diqiyaskan dengan mulut manusia yang bersih. Oleh itu, walaupun dagingnya haram dimakan tetapi air liur yang keluar daripada dagingnya tidak bercampur dengan sisa makanan yang dimakannya kerana ia minum dengan menggunakan paruh bukan lidah. Menurut ulama kalangan Hanafi bahwa sisa minuman burung tidak najis, karena burung buas minum air dengan paruhnya. Sehingga air tidak terkena oleh air liurnya.[8]
b.   Istihsan yang pengecualian dalilnya adalah maslahah.
Contohnya adalah seperti berikut :
1.    Hukum syara’ ketika melakukan akad atau jual beli terhadap barangan yang tidak ada waktu akad. Berdasarkan Istihsan, harus akad pada jual beli saham, sewa menyewa, upah mengupah atau membuat tempahan atau semua bentuk urusan barangan yang tiada pada waktu akad. Hujah dan alasan penggunaan istihsan adalah kerena manusia memerlukan dan sudah menjadi kebiasaan mereka menjalankan urusan dengan cara tersebut.
2.    Ulama menetapkan orang bodoh ( safih ) tidak sah tasarruf atau tabarru’ yang berkaitan dengan harta milik mereka. Namun begitu, istihsan mengharuskan dan mengecualikan mereka tasaruf dengan mewakafkan harta untuk diri mereka sewaktu mereka hidup. Penggunaan Istihsan ialah atas dasar menjaga harta mereka daripada habis dan dibelanjakan dengan sia-sia.

4. Kehujjahan Istihsan
Memperhatikan kehujahan istihsan dan menggunakannya sebagai dalil dalam istinbat hukum, memang menimbulkan perdebatan di kalangan ulama mazhab.
Dari sejumlah litelatur menyebutkan bahwa kelompok yang berhujjah dan menggunakan istihsan sebagai dalil hukum, sebagaimana dijelaskan oleh Abdul Wahab Khalaf ialah terdiri dari mazhab Hanafi, mazhab Maliki dan Mazhab Hanbali kelompok ini mengatakan “ Sesungguhnya istihsan adalah salah satu dalil hukum syara’, dan istihsan dipergunakan untuk menetapkan berbagai hukum ketika berlawanan dengan qiyas atau kaidah nash umum yang berlaku.
Yang menjadi alasan bagi kelompok ini bahwa istihsan sebagai salah satu dalil hukum syara’ dan merupakan hujjah dalam istinbath hukum adalah sebagai berikut:[9]
1.    Penggunaan istihsan sebagai hujjah adalah karena berdasarkan penelitian terhadap berbagai kasus dan penetapan hukumnya, ternyata berlawanan dengan ketentuan qiyas atau ketentuan kaidah umum, di mana kadang-kadang dalam penerapannya terhadap sebagian kasus tersebut justru bisa menghilangkan kemaslahatan yang dihajatkan oleh manusia karena kemaslahatan itu merupakan peristiwa khusus.
2.    Kelompok ini menggunakan dalil-dalil Al-Qur’an dalam mempertahankan istihsan sebagai hujjah, diantaranya Firman Allah Swt dalam surah Az-Zumar ayat 18[10]

tالَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya : Yang mendengarkan Perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya . Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal.
Yang kedua adalah dalam surat Al-Baqarah ayat 185 sebagai berikut:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
Dalam ayat yang pertama di atas diperintahkan mengikuti dan melaksanakan yang terbaik. Kemudian pada ayat yang kedua bahwa Allah menghendaki kemudahan dan bukan kesulitan bagi manusia yang kesemuanya itu akan mewujudkan kebaikan dan kemaslahatan bagi manusia.
3.    Menggunakan dalil Sunnah sebagai berikut:

Yang artinya apa saja yang dipandang baik oleh umat Islam adalah juga baik di sisi Allah.

5.Ulama Syafi’iyah dan Sepahamnya Yang Menolak Istihsan Sebagai Dalil
Tokoh yang sangat populer menolak atau menentang istihsan sebagai hujjah dan dalil dalam istinbath hukum adalah Imam Syafe’i. Imam syafi’i berkeyakinan bahwa berhujah dengan istihsan, berarti telah menentukan syariat baru.
 Sedangkan yang berhak membuat syariat itu hanyalah Allah SWT dari sinilah terlihat bahwa Imam Syafi’i beserta pengikutnya cukup keras dalam menolak masalah istihsan ini.
Alasan alasan Imam Syafi'i menolak istihsan:
ü Mengambil Istihsan sebagai hujjah agama artinya tidak berhukum dengan nash. Orang yang melakukan istihsan berarti dalam keadaan "suda", yaitu menetapkan hukum dengan menyalahi al Qur'an dan sunnah.[11]
ü Melakukan istihsan berarti menentang ayat ayat Al-Qur'an yang memerintahkan agar mengikuti wahyu dan menetapkan hukum sesuai dengan kebenaran (al haq) yang diturunkan Allah dan mengikuti hawa nafsu.
ü Rosulullah mengingkari hukum yang diterapkan sahabat yang mendasarkan dengan istihsan, yaitu mereka membunuh laki laki yang melekat pada pohon.
ü Istihsan adalah menetapkan hukum berdasar maslahah. Jika maslahah itu sesuai dalam nash dibolehkan, tetapi maslahah yang dijadikan pedoman dalam istihsan adalan maslahah menurut para ulama'.
ü Rosulullah SAW ketika menghukumi persoalan yang belum ada dalam Al Qur'an tidak menggunakan istihsan, melainkan menunggu turunnya wahyu.
ü Jika mujtahid dibolehkan menggunakan istihsan bearti ia tidak lagi berpegang kepada nash, tetapi hanya berhujjah pada akal semata.
Ini sejumlah alasan yang ditampilkan oleh Imam Syafe’i dalam rangka penolakkannya terhadap penggunaan istihsan dalam menetapkan hukum.
Tapi bila dicermati secara jeli, alasan-alasan yang dikemukakan Syafe’i di atas dalam rangka penolakkannya terhadap kelompok yang menggunakan istihsan yaitu Hanafi, Maliki dan Hanbali tidaklah seperti dibayangkan oleh Syafe’i yaitu berdasarkan hawa nafsu saja, tetapi istihsan yang tetap dilandasi oleh jiwa nash syari’at.
Perdebatan Syafe’i sebagai orang yang menolak istihsan dengan kelompok yang menggunakan istihsan lebih terkesan pada perbedaan teoritis, secara teoritis Imam Syafe’i memang mengecam dan menolak habis-habisan kelompok yang berhujjah dengan istihsan.
Akan tetapi pada prakteknya Imam Syafe’i disadari atau tidak sebetulnya menggunakan istihsan. Ada beberapa bukti bahwa dalam praktiknya Imam Syafe’i menggunakan Istihsan. Misalnya menyangkut kasus mut’ah bagi istri yang diceraikan suaminya, Syafei mengatakan: “ Saya menganggap baik untuk menetapkan mut’ah pemberian suami bagi istri yang dicerai yang tidak punya anak sebesar tiga puluh dirham”.
Contoh bukti bahwa Imam Syafe’i menggunakan istihsan dalam ijtihadnya. Jika demikian Imam Syafe’i menolak istihsan dengan kelompok yang menggunakan istihsan sebagai hujjah berbeda dalam mengartikan istihsan.

6.  Keistimewaan dan Keuntungan Berpegang pada Istihsan Hanafiyah, dan Kekurangan dan Kerugian Dalam Pelaksanaan Syariat Islam
a.    Keistimewaan dan Keuntungannya
Imam Hanafi tercatat paling banyak menggunakan istihsan dalam beberapa fatwanya. Ia berpendapat dalam posisi istihsan ini, melakukan istihsan lebih utama dari pada melakukan qiyas, pun pengambilan dalil yang lebih kuat diutamakan dari dalil yang lemah. Meskipun imam Hanafi tidak merumuskan sendiri pengertian istihsan sebagai dalil istimbat hukum, murid-muridnya menegaskan bahwa pengamalan istihsan adalah mengamalkan dalil syar’i, bukan berdasarkan hawa nafsu dan subjektifitas, sebagaimana ulama lain menuduh Imam Hanafi telah meninggalkan nash dan menyia-nyiakan dalil.

b.   Kekurangan dan Kerugiannya
Dan jika kita kembali mencermati pandangan dan argumentasi ulama yang menolak istihsān, kita dapat melihat bahwa yang mendorong mereka menolaknya adalah karena kehati-hatian dan kekhawatiran mereka jika seorang mujtahid terjebak dalam penolakan terhadap nash dan lebih memilih hasil olahan logikanya sendiri. Dan kekhawatiran ini telah terjawab dengan penjelasan sebelumnya, yaitu bahwa istihsān sendiri mempunyai batasan yang harus diikuti. Dengan kata lain, para pendukung pendapat kedua ini sebenarnya hanya menolak istihsān yang hanya dilandasi oleh logika semata, tanpa dikuatkan oleh dalil yang lebih kuat.


SIMPULAN
Istihsan ialah berpalingnya seorang mujtahid dari satu hukum pada satu masalah dari yang sebandingnya kepada hukum yang lain, karena ada suatu pertimbangan yang lebih utama yang menghendaki perpalingan.
 Kehujjahan istihsan hanya dipakai oleh mazhab Hanafi dan mazhab Maliki, pada hakekatnya istihsan bukan lah sumber hukum yang berdiri sendiri, karena sesungguhnya hukum istihsan bukanlah yang pertama dari kedua bentuknya berdalilkan qiyas yang tersembunyi yang mengalahkan qiyas yang nyata, karena adanya beberapa faktor yang memenangkan yang membuat tenang hati si mujtahid. Itulah segi istihsan. Sedangkan bentuk yang kedua dari istihsan ialah bahwa dalilinya adalah maslahat, yang menuntut pengecualiaan Kasuistis dari hukum kulli (umum) yang juga disebut dengan segi istihsan.
Pembagian Istihsan menurut Ulama Hanafiyah terbagi menjadilima, antara lain:
1.      Istihsan sunnah,
2.      Istihsan ijma,
3.      Istihsan darurat
4.      Istihsan dengan al-‘urf dan
5.      Istihsan dengan qiyas khafi
Al-syafi’i adalah ulama yang menolak Istihsan, karena memandang sebagai cara istinbath hukum dengan hawa nafsu, dan mencari enaknya saja, al-syafi’i dalam hal ini berkata : siapa yang melakukan istihsan berarti dia telah membuat-buat syariat, akan tetapi pada prakteknya Imam Syafe’i disadari atau tidak sebetulnya menggunakan istihsan. Ada beberapa bukti bahwa dalam praktiknya Imam Syafe’i menggunakan Istihsan. Misalnya menyangkut kasus mut’ah bagi istri yang diceraikan suaminya, Syafei mengatakan: “ Saya menganggap baik untuk menetapkan mut’ah pemberian suami bagi istri yang dicerai yang tidak punya anak sebesar tiga puluh dirham”.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Syarahsi. “Ushul al-Syarahsi”. Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyah. Jilid II. 1993.
Abdul Wahab Khalaf, “Ilmu Ushul al-fikih . Maktabah Al-Dakwah al-Islamiyah. cetakan VIII. 1991.
Abd Rahman Dahlan. Ushul Fiqh.Perpustakaan Nasional: Katalog dalam terbitan. 2010.
Abu zahrah. Ushul Fiqh. Mesir: Dar Al-Fikr Al-Araby. 1958.
Burhanuddin. Fiqh Ibadah. Bandung: cv Fustaka Setia. 2001.
Romli. Ushul Fiqh. Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan. 2006.
Muhammad Abu Zahrah. Ushul Fiqh. Pustaka Firdaus : Jakarta. 1999.





[1] Al-Syarahsi. “Ushul al-Syarahsi”. (Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyah, jilid II. Th.1993), hal. 200
[2] Abdul Wahab Khalaf, “Ilmu Ushul al-fikih (Maktabah Al-Dakwah al-Islamiyah, cetakan VIII,thn 1991) hal.79
[3] Romli. Ushul Fiqh, ( Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan. 2006) hal 121
[4] Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqih, (Pustak Firdaus :Jakarta, 1999) hal 402
[5] Ibid. hal 401
[6]  Burhanuddin. 2001. Fiqh Ibadah. (Bandung: cv Fustaka Setia) Hal.143
[7]  Romli . Ushul Fiqh, ( Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan. 2006)  hlm 127
[8]  Abu zahrah. 1958, Ushul Fiqh. Mesir: Dar Al-Fikr Al-Araby
[9] Abd Rahman Dahlan. 2010. Ushul Fiqh. ( perpustakaan Nasional: Katalog dalam terbitan) Hal 197
[10] Al-Qur’an dan terjemahnya. Departemen agama RI
[11] Muhammad Abu Zahrah. 1958, ushul al-fiqh, Mesir: Dar Al-Fikr al-Arabi. Hlm 270-271

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
loading...