Sunday, 12 June 2016

Penjelas Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat









PENJELAS

ATAS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 23 TAHUN 2011
TENTANG
PENGELOLAAN ZAKAT

I.     UMUM
Negara menjamin kemardekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaan itu, Penunaian zakat merupakan kewajiban bagi umat Islam yang mampu sesuai dengan syariat Islam. Zakat merupakan pranatan keagamaan yang bertujuan untuk meningkatkan keadilan, kesejahteraan masyarakat, dan penanggulangan kemiskinan.
Dalam rangka meningkatkan daya guna dan hasil guna, zakat harus dikelola secara melembaga sesuai dengan syariat Islam, amanah, kemanfaatan, keadilan, kepastian hukum, terintegrasi, dan akuntabilitas sehingga dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan dalam pengelolaan zakat.
Selama ini pengelolaan zakat berdasarkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun1999 tentang Pengelolaan Zakat dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhan hukum dalam masyarakat sehingga harus diganti. Pengelolaan Zakat diatur dalam Undang-Undang ini meliputi kegiatan perencanaan, pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan.
Dalam upaya mencapai tujuan pengelolaan zakat, dibentuk Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang berkedudukan di ibu kota negara, BAZNAS provinsi, dan BAZNAS kabupaten/kota. BAZNAS merupakan lembaga pemerintah nonstructural yang bersifat mandiri dan bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri. BAZNAS merupakan lembaga yang berwenang melakukan tugas pengelolaan zakat secara nasional.
Untuk membantu BAZNAS dalam pelaksanaan pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat, masyarakat dapat membentuk Lembaga Amil Zakat (LAZ). Pembentukan LAZ wajib mendapat izin Menteri atau pejabat yang ditunjuk oleh Menteri. LAZ wajib melaporkan secara berkala kepada BAZNAS atas pelaksaan pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat yang telah diaudit syariat dan keuangan.
Zakat wajib didistribusikan kepada mustahik sesuai dengan syariat Islam. Pendistribusian dilakukan berdasarkan skala prioritas dengan memperhatikan prinsip pemerataan, keadilan, dan kewilayahan. Zakat dapat didayagunakan untuk usaha produktif dalam rangka penanganan fakir miskin dan peningkatan kualitas umat apabila kebutuhan dasar mustahik telah terpenuhi.
Selain menerima zakat, BAZNAS atau LAZ juga dapat menerima infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya. Pendistribusian dan pendayagunaan infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya dilakukan sesuai dengan syariat Islam dan dilakukan sesuai dengan peruntukan yang diikrarkan oleh pemberi dan harus dilakukan pencatatan dalam pembukuan sendiri.
Untuk melaksanakan tugasnya BAZNAS, dibiayai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Hak Amil. Sedangkan BAZNAS provinsi dan BAZNAS kabupaten/kota dibiayai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan Hak Amil, serta juga dapat dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

II.  PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas.

Pasal 2
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Yang dimaksud dengan asas “amanah” adalah pengelola zakat harus dapat dipercaya.       
Huruf c
Yang dimaksud dengan asas “kemanfaatan”  adalah pengelolaan zakat dilakukan untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi mustahik.
Huruf d
Yang dimaksud dengan asas “keadilan” adalah pengelolaan zakat dalam pendistribusiannya dilakukan secara adil.
Huruf e
Yang dimaksud dengan asas “kepastian hukum” adalah dalam pengelolaan zakat terdapat jaminan kepastian hukum bagi mustahik dan muzaki.
Huruf f
Yang dimaksud dengan asas “terintegrasi” adalah pengelolaan zakat dilaksanakan secara hierarkis dalam upaya meningkatkan pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat.

Huruf g
Yang dimaksud dengan asas “akuntabilitas” adalah pengelolaan zakat dapat dipertanggungjawabkan dan diakses oleh masyarakat.

Pasal 3
Cukup jelas.

Pasal 4
Ayat (1)
        Cukup jelas.
Ayat (2)
        Huruf a
                    Cukup jelas.
        Huruf b
                    Cukup jelas.
        Huruf c
                    Cukup jelas.
        Huruf d          
                    Cukup jelas.
        Huruf e
                    Cukup jelas.
        Huruf f
                    Cukup jelas.
                        Huruf g
                    Cukup jelas.
        Huruf h
                    Cukup jelas.
        Huruf i
                    Yang dimaksud dengan “rikaz” adalah harta temuan.

Ayat (3)
Yang dimaksud dengan “badan usaha” adalah badan usaha yang dimiliki umat Islam yang meliputi badan usaha yang tidak berbadan hukum seperti firma dan yang berbadan hukum seperti perseroan terbatas.

Ayat (4)
        Cukup jelas.

Ayat (5)
        Cukup jelas.
Pasal 5
Cukup jelas.
           
Pasal 6
Cukup jelas.

Pasal 7
       Ayat (1)
        Cukup jelas.

       Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “pihak terkait” antara lain kementerian, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), atau lembaga luar negeri.
           
            Ayat (3)
        Cukup jelas.

Pasal 8
Cukup jelas.

Pasal 9
Cukup jelas.

Pasal 10
Cukup jelas.

Pasal 11
Cukup jelas.

Pasal 12
       Cukup jelas.

Pasal 12
       Cukup jelas.

Pasal 13
       Cukup jelas.

Pasal 14
       Cukup jelas.


Pasal 15
       Ayat (1)
                   Di Provinsi Aceh, penyebutan BAZNAS provinsi atau BAZNAS                            kabupaten/kota dapat menggunakan istilah baitul mal.

       Ayat (2)
                   Cukup jelas.

       Ayat (3)
                   Cukup jelas.

       Ayat (4)
                   Cukup jelas.

Ayat (5)
            Cukup jelas.

Pasal 16
       Ayat (1)
Yang dimaksud “tempat lainnya” antara lain masjid dan majelis taklim.
           
            Ayat (2)
                        Cukup jelas.

Pasal 17
       Cukup jelas.

Pasal 18
       Cukup jelas.

Pasal 19
       Cukup jelas.

Pasal 20
       Cukup jelas.

Pasal 21
       Cukup jelas.

Pasal 22
       Cukup jelas.
Pasal 23
       Cukup jelas.

Pasal 24
       Cukup jelas.

Pasal 25
       Cukup jelas.

Pasal 26
       Cukup jelas.

Pasal 27
       Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “usaha produktif” adalah usaha yang mampu meningkatkan pendapatan, taraf hidup, dan kesejahteraan masyarakat.

       Ayat (2)
Kebutuhan dasar mustahik meliputi kebutuhan pangan, sandang, perumuhan, pendidikan, dan kesehatan.
           
            Ayat (3)
                        Cukup jelas.

Pasal 28
       Cukup jelas.

Pasal 29
       Cukup jelas.

Pasal 30
       Cukup jelas.

Pasal 31
       Cukup jelas.

Pasal 32
       Cukup jelas.

Pasal 33
       Cukup jelas.
Pasal 34
       Cukup jelas.

Pasal 35
       Cukup jelas.

Pasal 36
       Cukup jelas.

Pasal 37
       Cukup jelas.

Pasal 38
       Cukup jelas.

Pasal 39
       Cukup jelas.

Pasal 40
       Cukup jelas.

Pasal 40
       Cukup jelas.

Pasal 41
       Cukup jelas.

Pasal 42
       Cukup jelas.

Pasal 43
       Cukup jelas.

Pasal 44
       Cukup jelas.

Pasal 45
       Cukup jelas.

Pasal 46
       Cukup jelas.


Pasal 47
       Cukup jelas.

Pasal 48
       Cukup jelas.


TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 5255

Baca Selengkapnya: More ...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
loading...