Friday, 2 September 2016

KISAH SEJARAH FIR’AUN

KISAH SEJARAH FIR’AUN

Image result for fir'aun
Pyramida Mesir - source:  www.republika.co.id

Fir'aun (Arab: فرعون Firʻawn; bahasa Ibraniפַּרְעֹהparohbahasa InggrisPharaoh) adalah gelar yang dalam diskusi dunia modern digunakan untuk seluruh penguasa Mesir kuno dari semua periode. Dahulu, gelar ini mulai digunakan untuk penguasa yang merupakan pemimpin keagamaan dan politik kesatuan Mesir kuno, hanya selama Kerajaan Baru, secara spesifik, selama pertengahan dinasti kedelapanbelas. Untuk penyederhanaan, terdapat kesepakatan umum di antara penulis modern untuk menggunakan istilah ini untuk merujuk penguasa Mesir semua periode. (Wikipedia)

Etimologi
Firaun diyakini berasal dari kata Ibrani Paroh. Sedangkan kata "Firaun" dalam bahasa Indonesia adalah bentuk dalam bahasa Arab dari kata ini. Kata Ibrani aslinya berasal dari bahasa Mesir Pr-Aa yang artinya adalah "Rumah Besar". Pertama-pertama ini adalah istilah untuk istana kerajaan, tetapi lama-lama artinya adalah penghuni istana ini, yaitu sang raja.

Gelar firaun
Asal mula gelar Firaun terjadi pada masa awal-awal perkembangan masyarakat lembah Sungai Nil yang sangat subur yang bercorak pertanian. Untuk pengairan, masyarakat mesir kuno pada awalnya mengandalkan musim banjir dan kemudian dilengkapi dengan irigasi teknis pada masa-masa berikutnya. Karena tanah dan batas-batas tanah sangat penting dalam struktur masyarakat mesir kuno saat itu, maka diangkatlah tokoh masyarakat yang dihormati untuk mengatur batas-batas tanah dan segala hal yang menyangkut tata kehidupan masyarakat. Tetua masyarakat itu diberi gelar pharao (firaun) yang karena berkembangnya sistem kemasyarakatan dan negara, Pharao ini diangkat menjadi raja yang pada masa itu sebagai pemimpin negara dan pemimpin keagamaan.
Pada awal perkembangannya, masyarakat Mesir kuno terbagi atas Mesir hulu dan Mesir hilir yang memiliki firaun dan lambang mahkota sendiri sendiri. Raja Menes dari Thebes akhirnya menyatukan kedua daerah menjadi satu kesatuan kekuasaan. Mahkota yang digunakan adalah mahkota rangkap.

Kisah Firaun
Pada suatu ketika, Nabi Musa menyampaikan pesan dari Allah kepada Firaun dan pengikutnya. Mereka diminta untuk menyembah Allah. Apabila mereka tidak mau, Allah akan menurunkan azab. Namun mereka tidak takut dengan ancaman Allah. Setelah itu, Allah mendatangkan musim kemarau yang panjang, Sungai Nil menjadi kering dan tanaman tidak tumbuh. Pengikut Firaun tetap tidak mau beriman. Mereka beranggapan bahwa bencana tersebut disebabkan  oleh Nabi Musa. Akhirnya, Allah menurunkan hujan setelah Nabi Musa berdoa. Dengan demikian, tanaman dapat tumbuh lagi Firaun dan pengikutnya merasa hal itu adalah hasil usahanya.

kisah-azab-firaun-dan-pengikutnya
Ilustrasi - berbagai sumber

             Kemudian, Allah menurunkan topan yang dahsyat. Tanaman mereka rusak. Para pengikut Firaun pun mendatangi Nabi Musa. Mereka meminta bencana topan dihentikan. Mereka juga berjanji akan menerima ajaran Nabi Musa. Setelah itu, Allah menghentikan bencana topan dan tanaman tumbuh subur kembali. Namun, mereka ingkar terhadap janji mereka. Berulang kali Allah menurunkan azab. Berulang kali pula mereka meminta bantuan Nabi Musa dan mengingkari janji mereka sendiri. Hanya sedikit pengikut Firaun yang beriman kepada Allah swt.
Kisah azab Allah kepada Firaun dan pengikutnya ada dalam Al-Quran Surat Al-Araaf ayat 130-131.


وَلَقَدْ أَخَذْنَا آلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِينَ وَنَقْصٍ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Artinya:
130. “Dan Sesungguhnya kami Telah menghukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran”

فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَٰذِهِ ۖ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَىٰ وَمَنْ مَعَهُ ۗ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
131.  “Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: "Itu adalah Karena (usaha) kami". dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, Sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui” (QS. Al-Araaf ayat 130-131).

Dalam ayat 133-134 Surat Al-A”raaf dijelaskan tentang azab Allah kepada kaum Firaun.

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ آيَاتٍ مُفَصَّلَاتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ
Artinya:
133. “Maka kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah[558] sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa”.

وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيْهِمُ الرِّجْزُ قَالُوا يَا مُوسَى ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ ۖ لَئِنْ كَشَفْتَ عَنَّا الرِّجْزَ لَنُؤْمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرْسِلَنَّ مَعَكَ بَنِي إِسْرَائِيلَ
134. “Dan ketika mereka ditimpa azab (yang Telah diterangkan itu) merekapun berkata: "Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhamnu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu[559]. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dan pada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu" (QS. Al-Araaf ayat 133-134).

[558]  Maksudnya: air minum mereka beubah menjadi darah.
[559]  Maksudnya: Karena Musa a.s. Telah dianugerahi kenabian oleh Allah, sebab itu mereka meminta dengan perantaraan kenabian itu agar Musa a.s.memohon kepada Allah.

Allah menghilangkan azab mereka. Namun, mereka mengingkari janji mereka.

فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ إِلَىٰ أَجَلٍ هُمْ بَالِغُوهُ إِذَا هُمْ يَنْكُثُونَ
Artinya:
135. “Maka setelah kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya” (QS. Al-Araaf ayat 135).

Sikap Firaun Yang Angkuh

Firaun risau dengan pernyataan Nabi Musa bahwa ada tuhan yang lain selain dia. Ia menganggap dirinya sebagai tuhan. Rakyatnya diminta menyembah dirinya. Kemudian, ia mengumpulkan rakyatnya. Dia antara yang hadir terdapat Haman. Haman adalah salah seorang menteri Firaun. Firaun memerintahkan kepada Haman, “Aku ingin kau membangun bangunan tinggi pencakar langit. Tingginya harus mencapai pintu-pintu langit. Aku akan naik dan melihat wajah Tuhannya Musa. Bukankah Tuhannya Musa berada di atas langit?”. Haman menyanggupinya. Ia mengumpulkan ribuan tukang batu dan tukang kayu.
Pada akhirnya, bangunan telah selesai dibangun. Puncak bangunan tidak kelihatan karena sangat tinggi. Firaun pun segera naik di bagian puncak yang paling tinggi. Di tempat itu. ia mengarahkan anak panahnya ke langit. Dengan izin Allah, anak panah jatuh di hadapan Firaun. Anak panahnya berlumuran darah karena sebelumnya telah dicelupkan ke dalam darah. Firaun menyombongkan diri dan berkata. “Lihatlah, aku telah membunuh Tuhannya Musa.”
Firaun memandang baik perbuatan buruknya. Semua tipu dayanya akan membawa kerugian. Kisah ini diceritakan dalam Surat Al-Mukmin ayat 36-37.

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ
Artinya:
36.“Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang Tinggi supaya Aku sampai ke pintu-pintu”,

أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا ۚ وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ ۚ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلَّا فِي تَبَابٍ
37.“(yaitu) pintu-pintu langit, supaya Aku dapat melihat Tuhan Musa dan Sesungguhnya Aku memandangnya seorang pendusta". Demikianlah dijadikan Fir'aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir'aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian” (QS. Al-Mu’min ayat 36-37).

Firaun merupakan Penguasa Zalim

وَإِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِي الْأَرْضِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الْمُسْرِفِينَ
Artinya:
 “Dan sesungguhnya Fir’aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas “ (Yunus: 83).

Fir’aun adalah Penguasa zalim yang namanya diabadikan dalam al-Qur’an oleh Allah SWT. Karena kezhalimannya sebagai Pemimpin hingga mengaku sebagai Tuhan, akhirnya ia ditenggelamkan Allah. Tak hanya itu, Bangkainya menjadi awet sampai sekarang dan menjadi pelajaran bagi orang-orang sesudahnya. Ada pelajaran yang dapat diambil manusia sesudahnya, Jangan berlaku zalim ketika jadi Pemimpin.
Kisah Firaun dalam kutipan ayat dimaksud adalah gambaran sosok Pemimpin zalim yang Allah murkai. Dalam diri Fir’aun terakumulasi semua sifat dan juga sikap yang merusak. Sikap sewenang-wenang yang melampaui batas adalah karakter merusak. Kesombongan, keangkuhan meliliti jiwanya.
Allah berfirman :

وَأَضَلَّ فِرْعَوْنُ قَوْمَهُ وَمَا هَدَىٰ
 Artinya:
“Dan Fir’aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk “ (Thaha : 79).

Penguasa yang zalim yang Allah murka akan memiliki pemikiran pendek dan picik. Sebagaimana yang disebutkan dalam Alquran tentang Fir’aun:

وَاسْتَكْبَرَ هُوَ وَجُنُودُهُ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ إِلَيْنَا لَا يُرْجَعُونَ
Artinya:
 “Dan berlaku angkuhlah Fir’aun dan bala tentaranya di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami” (Al-Qashash : 39).

Singkat cerita, Nabi Musa AS berdoa kepada Allah SWT untuk membinasakan Fir’aun Si Penguasa yang Zalim dan bala tentaranya dengan diaminkan oleh Nabi Harun AS. Kemudian Allah SWT mengabulkan doa keduanya.

وَقَالَ مُوسَىٰ رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَأَهُ زِينَةً وَأَمْوَالًا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ ۖ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَىٰ أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّىٰ يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ
Artinya:
88.”Musa berkata: "Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau Telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, Ya Tuhan kami - akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, Maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih."

قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
89.”AlIah berfirman: "Sesungguhnya Telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak Mengetahui". (QS. Yunus: 88-89)

Fir’aun sebagai Pemimpin yang angkuh dihinakan oleh Allah. Atas petunjuk Allah SWT, Nabi Musa AS pergi meninggalkan kota Memphis menuju ke Laut Merah. Fir’aun dan bala tentara menyusul dari belakang. Setibanya di tepi Laut Merah, Allah perintahkan kepada Musa ‘alaihi salam untuk memukulkan tongkatnya ke laut, secepat kilat laut pun terbelah, bukan surut. Seketika itu juga, Nabi Musa dan pengikutnya menyeberang lautan yang terus terbelah sampai mereka semua selamat tiba di seberang. Setelah itu laut menutup menenggelamkan sang raja besar yang sombong.

Bani Israil Meninggalkan Mesir

Pada masa pemerintahan Firaun, kaum Bani Israel telah menjadi pengikut Nabi Musa. Mereka percaya bahwa nabi Musa adalah utusan Allah. Firaun sangat tidak senang dengan keadaan demikian. Oleh karena itu, Firaun berkeinginan menghancurkan kaum Bani Israel dan Nabi Musa. Nabi Musa dan kaum bani Israel merencanakan untuk pergi meninggalkan negeri Mesir. Pada suatu malam, mereka berkumpul di suatu tempat yang telah ditentukan. Mereka pergi meninggalkan tanah Mesir menuju ke negeri Palestina. Mereka pergi secara diam-diam karena khawatir diketahui oleh Firaun dan tentaranya.
Bani Israel melewati padang pasir hingga sampai ditepi laut. Sementara itu, tentara Firaun melakukan pengejaran kepada mereka. Bani Israel kebingungan karena mereka tidak tahu cara untuk menyeberangi lautan. Bala tentara Firaun semakin dekat dengan kaum Bain Israel. Kaum bani Israel  dalam kondisi mulai panik. Mereka marah dan menyesal telah menjadi pengikut Nabi Musa. Salah seorang pengikut Musa mengatakan bahwa mereka  benar-benar akan tersusul oleh tentara Firaun. Kemudian, nabi Musa berkata, “Kita tidak akan tersusul.
Sesungguhnya Tuhanku besertaku. Allah akan memberi petunjuk kepadaku. Perjalanan kita ini diperintahkan oleh Allah kepadaku. Dialah yang akan menyelamatkan kita.
فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ
Artinya:
61.”Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul".

قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
62.”Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak dia akan memberi petunjuk kepadaku"  (QS. Asy-Syau’ara ayat 61-62).

Kematian Firaun

Mereka terlihat panik karena tentara Firaun semakin dekat dengan mereka. Dalam kondisi yang genting itu. Allah memerintahkan Nabi Musa untuk segera memukulkan tongkatnya ke laut. Setelah memukulkan tongkatnya, terbelahlah lautan hingga terbentuk dua belas lorong yang lurus. Kaum Bani Israel segera berlari di jalan tersebut menuju seberang laut. Melalui jalan itu juga, Firaun dan tentaranya mengejar mereka.
Nabi Musa dan kaum Bani Israel telah sampai di seberang laut. Sementara itu, Firaun dan tentaranya masih berada ditengah laut. Pada saat itulah, Allah memerintahkan laut untuk kembali pada keadaan semula. Firaun dan tentaranya pun tenggalam. Firaun menjadi lemas. Ia berkata, “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. Namun Allah telah menutup pintu tobat bagi Firaun. Firaun mati lemas di tengah laut.
Menurut ahli sejarah, jasad Firaun terdampar dipantai dan ditemukan oleh orang-orang Mesir. Jasadnya dibalsem dan masih utuh hingga sekarang. Kisah  kematian Firaun diantaranya dalam Surat Yunus ayat 90-92.

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya:
90.”Dan kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, Karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu Telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".

آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
91.”Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal Sesungguhnya kamu Telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ
92.”Maka pada hari Ini kami selamatkan badanmu[704] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami” (QS. Yunus ayat 90-92)

[704]  yang diselamatkan Allah ialah tubuh kasarnya, menurut sejarah, setelah Fir'aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir, Berhias, atau bepergian, atau menerima pinangan.

Kaum Bani Israil Tidak Bersyukur

Nabi Musa dan kaum Bani Israel telah selamat dari kejaran Firaun dan tentaranya. Mereka berada di seberang lautan. Selanjutnya, mereka melanjutkan perjalanan. Dalam Surat Al-A”raaf ayat 38 dikisahkan bahwa dalam perjalanan kaum Bani Israel melihat sekelompok orang yang menyembah berhala. Kemudian mereka meminta Nabi Musa membuat patung berhala. Nabi Musa menjawab, “Sungguh kamu orang-orang yang bodoh. Pantaskah aku mencari tuhan untukmu selain Allah, padahal Allah yang telah melebihkanmu dari umat yang lain.”

قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ فِي النَّارِ ۖ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَعَنَتْ أُخْتَهَا ۖ حَتَّىٰ إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لِأُولَاهُمْ رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّارِ ۖ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِنْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya:
38.  Allah berfirman: "Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang Telah terdahulu sebelum kamu. setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk Kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian[538] di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu[539]: "Ya Tuhan kami, mereka Telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka". Allah berfirman: "Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak Mengetahui" (QS. Al-‘Araaf ayat 38)

Pada saat mereka sampai di Gunung Sinai, mereka kepanasan. Allah pun menciptakan awan. Dengan demikian, mereka dapat terlindung dari panas matahari. Allah juga memberikan makanan kepada mereka saat persediaan makanan mereka telah habis. Ketika air telah habis, Allah mewahyukan kepada Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya pada batu. Air pun keluar  dari batu tersebut.
Allah telah memberikan karunia yang melimpah pada kaum Bani Israel. Namun, mereka belum merasa puas. Mereka menginginkan makanan yang lain. Kemudian, Nabi Musa menyindir mereka dengan berkata, “Pergilah ke Mesir ! Disana kamu akan mendapatkan apa yang kalian inginkan.”
Al-Quran mengisahkan nikmat Allah yang diberikan kepada kaum bani Israel. Di antaranya adalah dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 57, “dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu “Manna” dan “salwa”. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah kami berikan kepadamu dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” Manna adalah makanan manis sejenis madu, sedangkan Salwa adalah burung sebangsa burung puyuh.
Demikianlah kaum Bani Israel yang tidak bersyukur dan tidak bersabar. Sesungguhnya Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. Allah tidak memerlukan syukur dari hamba-hamba-Nya.


Source:


1. http://iswahyudi-wahyu.top/2016/09/kisah-sejarah-firaun.html
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Firaun
3. http://dunia-nabi.blogspot.co.id/2015/04/kisah-azab-firaun-dan-pengikutnya.html
4. http://webislami.com/kisah-firaun/


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
loading...