Friday, 17 February 2017

Menjauhi Pacaran; Tanggung Jawab Anak atau Orang Tua? - Serial Fikih Parenting Oleh: Wildi Raihanda, Lc

*Serial Fikih Parenting* ๐Ÿ“–

Image result for menjauhi zina
Menjauhi Pacaran

(Menjauhi pacaran; tanggung jawab anak atau orang tua?)

*Oleh*:Wildi Raihanda,Lc✍

Manusia merupakan makhluk yang dimuliakan Allah swt di muka bumi ini. Allah swt berfirman:

(ูˆَู„َู‚َุฏْ ูƒَุฑَّู…ْู†َุง ุจَู†ِูŠ ุขุฏَู…َ ูˆَุญَู…َู„ْู†َุงู‡ُู…ْ ูِูŠ ุงู„ْุจَุฑِّ ูˆَุงู„ْุจَุญْุฑِ ูˆَุฑَุฒَู‚ْู†َุงู‡ُู…ْ ู…ِู†َ ุงู„ุทَّูŠِّุจَุงุชِ ูˆَูَุถَّู„ْู†َุงู‡ُู…ْ ุนَู„َู‰ٰ ูƒَุซِูŠุฑٍ ู…ِู…َّู†ْ ุฎَู„َู‚ْู†َุง ุชَูْุถِูŠู„ًุง)

_"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan"_ (Surat Al-Isra' 70)

Di antara cara Allah memuliakan manusia adalah dengan mensyariatkan pernikahan untuk mencukupi kebutuhan dasar _(fitrah)_manusia: kebutuhan biologis, saling-mencintai terhadap lawan jenis, serta memiliki keturunan.

Melalui pernikahan, manusia dapat memenuhi kebutuhan biologisnya dengan cara yang mulia dan (bahkan) bernilai pahala, serta jauh dari hal-hal yang keji dan menjijikkan.

Dengan kata lain, Allah sangat melarang segala bentuk perbuatan 'kotor' yang dapat merendahkan derajat dan kemuliaan manusia. Misalnya saja, perbuatan zina. Dalam surah Al-Isra': 32, Allah swt berfirman:

(ูˆَู„َุง ุชَู‚ْุฑَุจُูˆุง ุงู„ุฒِّู†َุง ۖ ุฅِู†َّู‡ُ ูƒَุงู†َ ูَุงุญِุดَุฉً ูˆَุณَุงุกَ ุณَุจِูŠู„ًุง)

_"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk"._

Para ulama' sepakat bahwa, ada dua hal yang *diharamkan* Allah dalam ayat tersebut, yaitu:
1⃣ Perbuatan zina
2⃣ Segala hal yang dapat menghantarkan atau menjerumuskan kepada perbuatan zina, seperti: pergaulan bebas, *pacaran*, phone sex, atau menonton video porno, dan lain sebagainya.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Menjauhi "pacaran"; tanggung jawab anak atau orang tua?

Menjauhi pacaran tentu merupakan tanggung jawab anak dan orang tua. Hanya saja, di dalam Islam, orang tua memiliki tanggung jawab yang lebih besar terhadap anaknya selama anak tersebut belum dinikahkan. Rasulullah SAW bersabda: _"Barang siapa yang memliki anak maka hendaklah memberi nama yang baik untuknya dan mendidiknya. Jika anaknya telah berusia baligh maka hendaklah dia menikahkannya. Bila berusia baligh namun belum dinikahkan lalu anak tersebut berbuat dosa, maka dosanya ditanggung ayahnya (orang tua)"_ (HR. Baihaqi, No.8666)

Oleh karenanya, kewajiban orang tua mendidik, mengingatkan, dan mengawasi anak agar menjauhi "pacaran", yang dapat mendekati perbuatan zina.

Setidaknya ada empat faktor yang mendorong anak untuk pacaran:
➡Hanya ikut-ikutan trend pergaulan
➡Rasa ingin tahu (penasaran mencoba)
➡ Kurang kasih sayang orang tua (tempat berbagi)
➡ Dorongan seksual memasuki usia pubertas.

Lalu, bagaimana mengantisipasi, mencegah, atau menanggulanginya?

Islam memberi panduan lengkap untuk mendidik anak, sejak lahir hingga dewasa, termasuk menyikapi persoalan pacaran, yaitu:

1⃣Selalu memohon perlindungan kepada Allah untuk anak. Belajarlah dari Imron dan istrinya yang selalu mendoakan putrinya: Maryam (ibunda nabi Isa 'alaihissalam) hingga menjadi sosok wanita ahli ibadah dan berakhlak mulia:

_"Aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk"_ (surah Ali Imron: 36)

2⃣Sebelum memasuki usia baligh, hendaklah mulai membiasakan anak untuk memakai pakaian yang menutup aurat, atau mimimal tidak vulgar. Tujuannya agar anak mulai terbiasa sejak kecil memakai pakaian yang menutup aurat.

Orang tua juga -sedikit demi sedikit-dapat memberi pengetahuan kepada anak tentang batasan aurat laki-laki dan perempuan.

3⃣Memisahkan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan (paling lambat) saat memasuki usia 10 tahun.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: _"Dan pisahkanlah tempat tidur mereka saat berusia sepuluh tahun"_ (HR.Ahmad, 2/178)

4⃣ Saat memasuki usia baligh, anak sudah mulai dibiasakan membatasi diri untuk tidak bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Tujuannya, agar anak mengetahui bahwa ada batasan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.

5⃣ Membiasakan, mengingatkan, serta mengawasi anak untuk menjaga pandangan dari hal-hal yang mendorong rangsangan seksual. Baik dalam kehidupan nyata, tayangan televisi, maupun konten-konten pornografi yang tersebar di dunia maya.

_Dari Jarir bin Abdullah RA berkata: "aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang pandangan sekejap (tidak sengaja melihat hal yang diharamkan), maka beliau memerintahkanku agar memalingkan pandangan"_ (HR. muslim, No.2159)

6⃣ Mengisi kegiatan anak dengan aktifitas yang produktif, seperti membaca, bermain bersama, jalan-jalan bersama, atau berolahraga. Dengan beragam aktifitas, anak tidak mudah melamun, tidak 'bergantung' bermain gadget, serta bisa menyalurkan energinya.

7⃣Menjadi "teman berbagi" bagi anak. Dengan aktif bertanya seputar kegiatannya, atau mendengar cerita keluh kesahnya. Tujuannya agar anak tidak canggung atau takut untuk berbagi cerita kepada orang tua, termasuk hal yang privasi sekalipun.

8⃣Memastikan teman yang baik untuk anak. Sebab anak akan mudah terwarnai dengan teman bergaulnya. Rasulullah SAW bersabda:

ุงู„ุฑَّุฌُู„ُ ุนَู„َู‰ ุฏِูŠู†ِ ุฎَู„ِูŠู„ِู‡ِ ูَู„ْูŠَู†ْุธُุฑْ ุฃَุญَุฏُูƒُู…ْ ู…َู†ْ ูŠُุฎَุงู„ِู„ُ

_"Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan temannya"_(HR Abu Dรขwud, No. 4833)

9⃣Kalaupun anak ternyata sudah pacaran, maka hendaklah orang tua mengajaknya berbicara dari hati-hati, dan bukan menghakimi. Orang tua dapat memberi gambaran dampak negatif pacaran dari berbagai aspek.

_"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya"_ (Surah Luqman:13)

๐Ÿ”Ÿ Orang tua juga dapat mengajak anak hadir majelis-majelis taklim, pengajian, atau seminar lainnya. Barangkali, dengan mendengar penjelasan orang lain, anak lebih mudah menerima dan mendengarkan, lalu berubah.

_Wallahu a'lam bisshowab_.

#source: bc whatsapp***
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
loading...