Tuesday, 14 February 2017

Apa saja syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi Amil Zakat?

Image result for Amil zakat
#source: mardeka.com
Pertanyaan
Apa saja syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi amil zakat?
Jawaban
Seorang amil zakat hendaknya memenuhi syarat-syarat berikut.
a.       Muslim
Zakat merupakan urusan kaum muslimin. Jadi, Islam menjadi syarat utama bagi segala urusan mereka. Meskipun demikian, Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya membolehkan seorang amil zakat. Hal ini berdasarkan ayat, “… amil zakat …” (QS. At-Taubah: 60).
Menurutnya, ayat tersebut mempunyai pengertian umum, termasuk didalamnya kafir dan muslim. Oleh karena itu, tidak ada halangan baginya mengambil upah kerjanya seperti upah-upah lainnya.
Adapun menurut Ibnu Qudamah bahwa setiap pekerjaan yang memerlukan syarat amanah (kejujuran) hendaknya disyaratkan Islam bagi pelakunya, seperti menjadi saksi. Hal ini dikarenakan urusan itu adalah urusan kaum muslimin sehingga pengurusnya tidak dapat diberikan kepada orang kafir, seperti halnya urusan-urusan lain. Orang yang bukan ahli zakat tidak boleh diserahi urusan zakat, seperti halnya kafir harbi (musuh) karena orang kafir itu tidak dapat dipercaya. Berkaitan dengan hal itu, Umar berkata:
لَا تَأْمَنُوْهُمْ وَقَدْ خَوَّنَهُمُ الله.
“Janganlah kalian serahkan amanat itu kepada mereka karena mereka telah berbuat khianat kepada Allah.”

Umar telah menolak seorang Nasrani yang dipekerjakan oleh Abu Musa sebagai penulis zakat karena zakat itu adalah rukun Islam yang utama.
b.      Mukallaf.
Pengurus zakat harus orang dewasa yang sehat akal pikirannya.
c.       Orang yang jujur.
Pengurus zakat seharusnya bukan orang yang fasik dan tidak dapat dipercata. Misalnya, ia akan berbuat zalim kepada para pemilik harta atau berbuat sewenang-wenang terhadap hak fakir miskin karena mengikuti keinginan hawa nafsunya atau untuk mencari keuntungan.
Rasulullah Saw. berpesan kepada petugas pemungut zakat-Mu’az bin Jabal ketika bertugas ke Yaman-agar berhati-hati terhadap doa orang yang dizalimi (teraniaya), dengan sabdanya:
فَأِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَأِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ.
“Waspadalah pada harta-harta mereka yang bernilai dan jagalah dirimu dari doa orang yang teraniaya. Sesungguhya antara dia dan Allah tanpa pembatas.” (HR. Bukhari).

Umar bin Khaththab juga berpesan kepada pemungut zakat, yang bernama Hunayya yang ditugaskan ke wilayah Al-Hima:
يَاهُنَيُّ اضْمُمْ جَنَاحَكَ عَنِ الْمُسْلِمِيْنَ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَأِنَّ دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ مُسْتَجَابَةٌ.
Wahai Hunayya, genggamlah tanganmu dari kaum muslimin dan jagalah dirimu dari doa orang yang teraniaya. Sesungguhnya doa orang yang teraniaya mustajab (terkabul).” (HR. Bukhari).

d.      Orang yang memahami hukum-hukum zakat.
Para ulama mensyaratkan petugas zakat itu harus paham terhadap hukum zakat. Jika orang yang diserahi zakat tidak mengetahui hukum, ia tidak mungkin mampu melaksanakan pekerjaannya dan akan lebih banyak berbuat kesalahan. Masalah zakat memberikan pengetahuan tentang harta yang wajib dizakati dan yang tidak wajib dizakati. Urusan zakat juga memerlukan ijtihad terhadap masalah yang timbul untuk mengetahui hukumnya. Apabila pekerjaan itu menyangkut bagian tertentu mengetahui urusan pelaksanaan, tidak disyaratkan memiliki pengetahuan tentang zakat, kecuali sekedar yang menyangkut tugasnya.
e.       Memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas.
Pengurus zakat hendaklah mampu melaksanakan tugasnya dan sanggup memikul tugas itu. Kejujuran saja belum mencukupi jika tidak disertai kekuatan dan kemampuan untuk bekerja.
قَالَتۡ إِحۡدَىٰهُمَا يَٰٓأَبَتِ ٱسۡتَ‍ٔۡجِرۡهُۖ إِنَّ خَيۡرَ مَنِ ٱسۡتَ‍ٔۡجَرۡتَ ٱلۡقَوِيُّ ٱلۡأَمِينُ (26).
“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya" (QS. Al-Qashash: 26)

قَالَ ٱجۡعَلۡنِي عَلَىٰ خَزَآئِنِ ٱلۡأَرۡضِۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٞ ٥٥
“Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan" (QS. Yusuf: 55).

Kata “hafizh” yang berasal dari “hafizh” (penjaga), artinya orang yang dapat dipercaya. Sedangkan, kata “’alim” yang berasal dari kata “’ilm”, artinya mampu dan ahli dibidangnya atau bahasa populernya professional. Kedua syarat ini adalah asas segala pekerjaan bisa berhasil.

Baca Juga:::


Source:
Al-FurqonHasbi, 125 Masalah Zakat, (Solo: TigaSerangkai, 2008)
Dan Berbagai Sumber …         
loading...