Thursday, 23 February 2017

Apakah bagian zakat golongan muallaf ini hilang setelah Rasulullah Saw. wafat?


Related image
#source: sejarahmungkinberulang08.com
Pertanyaan
Apakah bagian zakat golongan muallaf ini hilang setelah Rasulullah Saw. wafat?
Jawaban
Dalam hal ini ada perbedaan pendapat dikalangan ulama. Menurut Imam Abu Hanifah dan para sahabatnya, “Hak itu telah gugur dengan tersebar dan jayanya Islam.” Alasannya, Abu Bakar tidak mau member Abu Sufyan, Uyainah, Aqra, dan Abbas bin Mirdas. Ceritanya, mereka datang ke Abu Bakar r.a. dan menuntut bagian mereka. Abu Bakar menulis surat persetujuanyang mereka bawa kepada Umar. Namun, Umar menolak dan mengoyak-ngoyak surat itu, lalu berkata, “Ini adalah pemberian dari Nabi Saw. untuk memikat kalian agar masuk Islam. Namun, sekarang Allah telah menguatkan Islam dan tidak memerlukan kalian lagi. Jika kalian tetap dalam keislaman, baik. Dan jika tidak, pedanglah yang akan menyelesaikan urusan kita.” Allah SWT berfirman:
وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلظَّٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَاۚ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا 29.
“Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. Al-Kahfi: 29)

Selanjutnya, mereka kembali kepada Abu Bakar r.a. dan mengatakan, “Siapa sebetulnya yang menjadi khalifah, Andakah atau Umar atau Umar? Anda beri kami surat, tetapi dikoyak-koyak oleh Umar!” Abu Bakar menjawab, “Dia, kalau dia mau.”
Menurut golongan Hanafiyah, ternyata Abu Bakar menyetujui Umar dan tak seorang pun diantara sahabat yang menyangkalnya, sebagaimana tak ada yang mengatakan bahwa Utsman dan Ali memberikan bagian zakat kepada golongan mullaf ini.
Sedangkan, menurut Imam Syafi’I, mullaf  yang dimaksud disini tidak berlaku lagi bagi orang kafir, tetapi orang fasik boleh diberi bagian.
Berbeda dengan mazhab Malikiyah yang menyatakan apabila mereka sewaktu-waktu membutuhkan, berilah mereka itu zakat.
Adapun menurut Imam Ahmad dan pengikutnya, hukum mullaf  itu berlaku serta tidak pernah ada naskh (penghapusan) dan perubahan terhadapnya. Meskipun demikian, pendapat yang lebih kuat ialah berlakunya jatah tersebut diwaktu perlu saja. Misalnya, seandainya dimasa seorang kepala Negara ada suatu golongan yang tidak mau tunduk kecuali dengan harta dunia, padahal ia tidak mampu menaklukannya, kecuali dengan kekerasan dan tangan besi, ia boleh memikat hati mereka karena tersebarnya Islam itu tidak mempunyai pengaruh dan manfaat apa-apa dalam peristiwa khusus seperti ini.
Adapun kaitannya dengan pendapat yang menganggap telah gugur jatah mullaf  karena kejayaan Islam, dengan alasan sikap Abu Bakar yang setuju dengan pendapat Umar, hal itu hanyalah ijtihad sahabat Umar r.a. yang menganggap tidak ada maslahatnya memberi bagian setelah kuatnya Islam dikalangan kaum mereka sehingga tidak ada kekhawatiran mereka akan murtad. Sedangkan, berita bahwa Utsman dan Ali r.a. tidak pernah memberikan bagian kepada golongan ini, tidak dapat dijadikan alasan bahwa mereka berpendapat gugurnya jatah mullaf. Hal ini mungkin disebabkan tidak perlunya lagi memikat hati orang kafir, namun ini bukan berarti jatah mereka gugur. Apalagi yang menjadi pedoman dalam hukum ialah Al-Qur’an dan hadits. Keduanya menjadi dasar pokok yang tidak dapat diabaikan dalam keadaan bagaimanapun.


Source:
Al-FurqonHasbi, 125 Masalah Zakat, (Solo: TigaSerangkai, 2008)
Dan Berbagai Sumber …            
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
loading...