Thursday, 2 March 2017

Konsep Syariah Bank Islam (Bank Syari'ah)


Image result for islamic bank
Islamic Banking
#source: www.freemalaysiatoday.com
Bank Syariah merupakan lembaga perbankan yang dijalankan dengan prinsip syariah. Dalam setiap aktivitas usahanya, bank syariah selalu menggunakan hukum-hukum islam yang tercantum di dalam Al-Qur’an dan Hadist. [1]
Prinsip dasar kegiatan usaha dalam bank Islam (bank syari’ah) adalah perniagaan dengan aturan dan tata cara sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah Bentuk hubungan ekonomi antara pihak yang terlibat dalam sistem ekonomi Islam ditentukan oleh hubungan akad. Jenis-jenis akad itu adalah:
1.      Akad pertukaran
2.      Akad titipan
3.      Akad bersyarikat
4.      Akad memberi kepercayaan
5.      Akad member izin
Pelaksanaan hubungan akad ini mengacu pada usaha/transaksi yang menerapkan prinsip keadilan, kebersamaan dan efisiensim, yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dengan mengarahkan segala sumber daya yang ada dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidup.
A.    Jenis Jual Beli
Beberapa bentuk perjanjian jual beli yang berkaitan dengan produk perbankan Islam ini dikutip dari Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Bank Syariah (LPPBS, 1996) dikelompokan sebagai berikut:
a.       Perbandingan harga jual dan harga beli
b.      Jenis barang pengganti
c.       Waktu penyerahan barang/dana
1.      Perbandingan harga jual dan harga beli
Berdasar Perbandingan harga jual dan harga beli dibedakan atas:
a.      Al-Musawamahh
Al-Musawwamah adalah jual beli yang biasa dilakukan, dimana penjual menetapkan harga tanpa member tahu berapa besar margin keuntungan yang dibebankan kepada pembeli.
b.      Al-Tauliah
Al-Tauliah adalah proses transaksi jual beli yang dilakukan tanpa mengambil keuntungan sedikitpun, seolah penjual menjadikan pembeli sebagai walinya (tauliah) atas suatu barang atau aset.
c.       Al-Murabahah
Al-Murabahah adalah proses transaksi jual beli yang dilakukan dengan memberikan margin keuntungan sesuai kesepakatan.
Konsep jual beli Murabahah merupakan landasan yang penting dalam menyelenggarakan produk bank Islam selain produk berdasarkan prinsip bagi hasil.
Konsep ini dapat diterapkan dalam:
a.       Pembiayaan pengadaan barang.
b.      Pembiayaan penerbitan Letter of Credit (L/C)
c.       Al-Muwadhaah
Al- Muwadhaah adalah menjual dengan harga yang lebih rendah dari harga beli, merupakan bentuk kebalikan dari Al-Murabahah.
Al- Muwadhaah biasa dilakukan ketika penjual benar-benar membutuhkan likuidasi (uang tunai) atau pada saat resesi ekonomi.
Prinsip Al- Muwadhaah (pengurangan harga) dapat pula dilakukan bila diberikan potongan atau discount dalam penagihan pembiayaan yang belum jatuh tempo (maturity time).
Dasar hukum jenis produk ini adalah hadits riwayat Ibnu Abbas.
“Ketika Rasulullah memerintahkan pengusiran orang Yahudin Bani Nadhir dari Khaibar (akibat penghianatannya) diantara mereka ada yang datang mengadu kepada Rasulullah “Ya Nabi Allah engkau menyuruh kami keluar dari daerah ini sedangkan kami mempunyai kredit ditangan nasabah-nasabah kami yang belum jatuh tempo.” Rasulullah lantas memerintahkan kami agar (mereka) diberi rabat untuk menerima pembayaran sebelum tiba waktunya.”

2.      Berdasarkan jenis barang pengganti
Konsep jual beli dapat juga dibedakan berdasarkan jenis barang penggantinya, yaitu:
a.      Al-Muqayadhah
Bentuk jual beli ini merupakan bentuk dasar transaksi dimana barang ditukar dengan barang. Dikenal dengan istilah barter.
b.      Al-Mutlaq
Bentuk jual beli ini merupakan bentuk dasar transaksi dimana barang ditukar dengan uang.
c.       Ash-Sharf
Bentuk jual beli ini sekarang dikenal dengan “Money Exchanger” atau jual beli valuta asing. Dimana terjadi pertukaran uang dengan uang.
Dasar hukum persyaratan jual beli mata uang didasarkan hadits berikut:
“Dari Abu Sa’id Al-Hudri bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Janganlah menukarkan emas dengan emas kecuali sama dan identik, janganlah melebihkan satu dengan yang lainnya, janganlah menukarkan mata uang dengan mata uang yang sejenis kecuali sama dan identik, janganlah melebihkan satu dengan yang lainnya, dan jangan pula menukarkannya yang satu secara tunai dan lainnya secara kredit.

“Dari Ubadah bin Shamit bahwa Rasulullah Saw., bersabda: “Emas harus ditukarkan dengan emas, perak dengan perak, selai dengan selai, gandum dengan gandum, kurma dengan kurma, garam dengan garam dalam takaran yang sama dan tunai. Bila jenisnya berbeda maka tukarkanlah sesuka anda asal dilakukan dengan tunai.” (HR. Jama’ah kecuali Bukhari).

Dengan menunjuk kepada hadits tersebut sebagai dasar hukum maka jual beli valuta asing harus dilakukan secara:
·         Tunai
·         Serah terima harus dilakukan dalam bentuk kontrak yang jelas
·         Jika suatu mata uang ditukarkan dengan mata uang yang sama (rupiah dengan rupiah) maka harus dalam jumlah yang sama dan secara tunai.
·         Seandainya ditukarkan dengan mata uang lain (rupiah dengan dolar) maka dapat dilakukan dalam jumlah yang berbeda asalkan secara tunai.
·         Seandainya ditukarkan dengan mata uang lain (rupiah dengan dollar) maka dapat dilakukan dalam jumlah yang berbeda asalkan secara tunai.
3.      Waktu penyerahan barang/dana
Jenis jual beli berdasarkan waktu penyerahan barang/dana merupakan hal yang penting, karena dapat menentukan nilai jualnya. Berdasarkan waktu penyerahan barang/dana harga jual dan harga beli dapat dibedakan.
a.      Al-Ba’iu bitsaman ajil
Al-Ba’iu bitsaman ajil adalah suatu konsep menjual dengan harga pokok ditambah dengan margin keuntungan yang telah disepakati. Pembayarannya dilakukan secara tangguh dan angsuran.
Artinya setelah barang diserahkan kepada pembeli, pembayarannya dapat ditangguhkan dan diangsur sesuai kesepakatan bersama antara penjual dan pembeli.
Dasar hukum konsep jual beli ini berdasar hadits dari Suhaib r.a. bahwa Rasulullah berbeda bahwa terdapat 3 perkara yang didalamnya ada 3 keberkatan, yaitu 1). Menjual secara kredit, 2). Muqaradhah (nama lain dari Mudharabah), 3). Mencampurkan tepung dengan gandum untuk kepentingan ramah dan bukan untuk dijual. (HR. Ibnu Majah).
Al-Ba’iu bitsaman ajil adalah pengembangan dari murabahah. Hal ini tampak jelas dari unsur waktu dalam pembayaran,
Bentuk usaha ini dapat digunakan dalam:
1.      Proses pengadaan barang
2.      Pembiayaan impor
Adanya unsur penangguhan waktu menyebabkan perlunya jaminan pembayaran, dari padangan Islam tidak ada halangan untuk meminta kolateral. Pada konsep Al-Ba’iu bitsaman ajil pihak bank dapat menggunakan surat-surat jaminan atas transaksi tertentu sebagai jaminan hingga lunasnya pembayaran.
b.      Al-Ba’I As-Salam
Al-Ba’I As-Salam atau disebut jugan dengan salaf merupakan kebaikan dari Al-Ba’iu bitsaman ajil. Pembayarannya dilakukan secara tunai tetapi penyerahan barang ditangguhkan sampai waktu yang telah disepakati.
Adanya unsur penangguhan waktu menyebabkan perlunya jaminan pembayaran, dari pandangan Islam tidak ada halangan untuk meminta kolateral. Pada konsep Al-Ba’I As-Salam pihak bank dapat menggunakan surat-surat jaminan atas transaksi sebagai jaminan hingga selsesainya penyerahan barang.
B.     Riba
Allah berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡكُلُواْ ٱلرِّبَوٰٓاْ أَضۡعَٰفٗا مُّضَٰعَفَةٗۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ (130) .
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda] dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali-Imron: 130).[2]

ٱلَّذِينَ يَأۡكُلُونَ ٱلرِّبَوٰاْ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِي يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ فَمَن جَآءَهُۥ مَوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ فَٱنتَهَىٰ فَلَهُۥ مَا سَلَفَ وَأَمۡرُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِۖ وَمَنۡ عَادَ فَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ(275) .
يَمۡحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰاْ وَيُرۡبِي ٱلصَّدَقَٰتِۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ (276) .
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (275)
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (276), (QS. Al-Baqarah: 275-276).[3]

Menurut tafsir Al-Qur’an yang dikeluarkan oleh Departement Agama, ada 2 macam riba yaitu: Riba’ Nasi’ah dan Riba Fadhl. Riba’ Nasi’ah adalah pembayaran lebih yang diisyaratkan oleh orang yang member pinjaman. Sedangkan Riba Fadhl ialah pertukaran lebih dari satu jenis barang. Seperti, emas, perak, gandum, beras, garam. Riba yang dimaksud pada ayat ini adalah Riba’ Nasi’ah. Umumnya pemberi pinjaman akan memperoleh keuntungan berlipat ganda, biasanya terjadi didalam masyarakat Arab Jahiliyah.[4]
Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya orang kafir bila mengerjakan suatu kebaikan diberikan kelezatan didunia. Sedangkan orang beriman bila mengerjakan suatu kebaikan diberikan kelezatan diakhirat.”

 Baca Juga:::     
> Sistem Pembiayaan Usaha dan Konsep Rezeki dalam Islam
> Sumber, Penyaluran dan Pendapatan Dana Bank Islam (Bank Syari'ah)
> Konsep Syariah Bank Islam (Bank Syari'ah)
> Perbedaan Prinsip Managemen Antara Bank Islam (Bank Syari'ah) dan Bank Konvensional



[1] http://pengertiandefinisi.com/pengertian-bank-syariah-beserta-fungsinya/
[2] Qur’an, 3: 130
[3] Qur’an, 2: 275-276
[4] Yan Orgianus, Islam dan Pengetahuan Sains, 2008, (Bogor: Bee Media Pustaka)
loading...