Wednesday, 1 March 2017

Sistem Pembiayaan Usaha dan Konsep Rezeki dalam Islam

Image result for rezeki dalam Islam
#source: halhalal.com
Untuk mengembangkan suatu usaha selain melihat kepada permintaan pasar dan kemampuan SDM dalam menguasai teknologi, juga diperlukan modal yang cukup. Tidak adanya modal yang cukup pada pengusaha merupakan suatu kendala untuk mewujudkan maksud tersebut. Oleh karena itu, diperlukan sebuah lembaga yang dapat menjembatani kebutuhan pasar, dan pengembangan industri.
Dari pengalaman krisis moneter yang lalu (1997-1999), ada fenomena menarik yang dapat dijadikan pelajaran untuk masa mendatang. Dimana pada sejumlah perbankan konvensional terjadi peningkatan bunga pinjaman nasabah lebih dari dua kali lipat. Akibatnya nasabah peminjam (debitur) kesulitan untuk membayar kreditnya. Sebaliknya nasabah peminjam (debitur) pada bank bersyariat Islam, yang menerapkan system bagi hasil dengan prinsip profit and loss sharing, dimana keuntungan dan resiko kerugian ditanggung bersama antara bank dan pengusaha tidak merasakan akibat negatif itu.[1]
Unsur moralitas yang menjadi karakteristik dan keunggulan bank syariah menjadi unsur penting yang diharapkan dapat mendorong terciptanya etika usaha dan integritas pemilik dan pengurus yang tinggi. Karena dengan kontark pembiayaan system bagi hasil mendorong terciptanya pola hubungan kemitraan, bukan hubungan debitur dan kreditur yang antagonis.[2]
Karena trend lembaga pembiayaan mendatang, akan menuju pada sistem bagi hasil dan bagi resiko, memodifikasi sistem bagi hasil dari pembiayaan usaha menurut syariah Islam. Tentunya melalui sistem ini bisa bermanfaat terhadap sesama, untuk kemaslahatan umat. 
Dalam ayat Al-Qur’an dan Hadits mengenai Pembiayaan
إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡأَرۡحَامِۖ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسٞ مَّاذَا تَكۡسِبُ غَدٗاۖ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسُۢ بِأَيِّ أَرۡضٖ تَمُوتُۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرُۢ (34) .
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)[3]

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang kafir bila mengerjakan suatu kebaikan diberikan kelezatan didunia. Sedangkan orang beriman bila mengerjakan suatu kebaikan diberikakan kelezatan didunia dan di akhirat.”

Kunci-Kunci Rezeki dalam Islam
1.      Istighfar dan Taubat
2.      Hijrah
3.      Beribadah dengan Sungguh-sungguh kepada Allah
4.      Memelihara Silaturrahmi
5.      Berinfak dijalan Allah
6.      Menuntut Ilmu
7.      Bersedekah kepada orang-orang yang lemah
8.      Berhaji dan Umrah
9.      Bertawakal Kepada Allah
10.  Taqwa

Baca Juga:::     
> Sistem Pembiayaan Usaha dan Konsep Rezeki dalam Islam
> Sumber, Penyaluran dan Pendapatan Dana Bank Islam (Bank Syari'ah)
> Konsep Syariah Bank Islam (Bank Syari'ah)
> Perbedaan Prinsip Managemen Antara Bank Islam (Bank Syari'ah) dan Bank Konvensional



[1] Yan Orgianus, Islam dan Pengetahuan Sains, 2008, (Bogor: Bee Media Pustaka)
[2] Abdul Salam, Ekonomi Syariah dan Perbankan Syariah dalam Persfektif Perekonomian Indonesia, Seminar Ekonomi Syariah dan Perbankan Syariah, Studi Management Jurusan Teknik Industri ITB, Bandung, 6 Mei 2000.
[3] Qur’an, 31: 34
loading...