Thursday, 13 July 2017

Susunan dan Anatomi Kontrak

Image result for kontrak
infopenerbangan,com

SUSUNAN DAN ANATOMI KONTRAK
Kontrak menurut bahasa Inggris menyebutkan “contracts”, bahasa Belanda menyebutkan “overeenkomsf”. Sejarah keberadaan kontrak diperkuat dengan adanya dua teori, yakni teori baru dan teori lama. Menurut teori lama kontrak semata-mata adalah perjanjian, sebagaimana teori lama kontrak semata adalah perjanjian, sebagaimana diatur didalam ketentuan Pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Adapun menurut teori baru kontrak adalah juga suatu perjanjian yang merupakan suatu hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum. Kontrak sama dengan perjanjian, persetujuan karena adanya dua pihak setuju untuk melakukan sesuatu. Kontrak pengertiannya lebih sempit dari pada persetujuan dan perjanjian, yaitu hanya ditujukan kepada perjanjian/persetujuan, yaitu hanya ditujukan kepada perjanjian/persetujuan yang tertulis. Namun disini tidak hanya semata-mata perjanjian tetapi juga perbuatan yang dikenal dalam tiga tahap.

Pada dasarnya susunan dan anatomi kontrak dapat digolongkan dalam tiga bagian, yaitu pendahuluan, isi, dan penutup.
1.      Bagian Pendahuluan
Dalam bagian pendahuluan dibagi menjadi tiga subbagian.
a.       Subbagian pembuka (description of the instrument).
Subbagian ini memuat tiga hal berikut, yaitu:
1)      Sebutan atau nama kontrak dan penyebutan selanjutnya (penyingkatan) yang dilakukan;
2)      Tanggal dari kontrak yang dibuat dan ditandatangani; dan
3)      Tempat dibuat dan ditandatanganinya kontrak.
b.      Subbagian pencantuman identitas para pihak (caption).
Dalam sebagian ini dicantumkan identitas para pihak yang mengikat diri dalam kontrak dan siapa-siapa yang menandatangani kontrak tersebut. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan tentang identitas para pihak, yaitu:
1)      Para pihak harus disebutkan secara jelas;
2)      Orang yang menandatangani harus disebutkan kapasitasnya sebagai apa;
3)      Pendefinisian pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak.
c.       Subbagian penjelasan.
Pada subbagian ini diberikan penjelasan mengapa para pihak mengatakan kontrak (sering disebut bagian premis).

2.      Bagian Isi
Ada empat hal yang tercantum dalam bagian isi:
a.       Klausula definisi (definition): Dalam klausula ini biasanya dicantumkan berbagai definisi ini hanya berlaku pada kontrak tersebut dan dapat mempunyai arti dari pengertian umum. Klausula definisi penting dalam rangka mengefisienkan klausula-klausula selanjutnya, karena tidak perlu diadakan pengulangan.
b.      Klausula transaksi (operative language): Klausula transaksi adalah klausula-klausula yang berisi tentang transaksi yang akan dilakukan. Misalnya dalam jual beli asset, maka harus diatur tentang obyek yang akan dibeli dan pembayarannya. Demikian pula dengan suatu kontrak usaha patungan, perlu diatur tentang kesepakatan para pihak dalam kontrak tersebut.
c.       Klausula spesifik: Klausula spesifik mengatur hal-hal yang spesifik dalam suatu transaksi. Artinya klausula tersebut tidak terdapat dalam kontrak dengan sanksi yang berbeda.
d.      Klausula ketentuan umum: Klausula ketentuan umum adalah klausula yang sering kali dijumpai dalam berbagai kontrak dagang maupun kontrak lainnya. Klausula ini antara lain mengatur tentang domisili hukum, penyelesaian sengketa, pilihan hukum, pemberitahuan, dan keseluruhan dari perjanjian.

3.      Bagian Penutup
Ada dua hal yang tercantum pada bagian penutup:
a.   Subbagian kata penutup (closhing), kata penutup biasanya menerangkan bahwa perjanjian tersebut dibuat dan ditandatangani oleh pihak-pihak yang memiliki kapasitas untuk itu. Atau para pihak menyatakan ulang bahwa mereka akan terikat dengan isi kontrak.
b.  Subbagian ruang penempatan tanda tangan adalah tempat pihak-pihak menandatangani perjanjian atau kontrak dengan menyebutkan nama pihak yang terlibat dalam kontrak, nama jelas orang yang menandatangani dan jabatan dari orang yang menandatangani.
Langkah-langkah dalam menyusun dan merancang kontrak:
a.   Pertemuan kehendak para pihak yang akan saling mengikatkan diri yaitu adanya niat dan kemauan dari pihak yang satu yang kemudian diterima oleh pihak yang lain atau para pihak sama-sama berkeinginan untuk melakukan hubungan bisnis. Penerimaan keinginan atau adanya kesamaan keinginan itulah merupakan pertemuan kehendak para pihak.
b.      Perundingan (negosiasi).
Adalah berunding atau bermusyawarah atau mengadakan perundingan antara pihak satu dengan pihak lainnya mengenai pokok-pokok/prinsip-prinsip materi aka nisi kontrak secara garis besarnya saja.
c.       Memorandum of understanding (MOU).
Adalah catatan pendek/nota saling pengalian yang dicapai oleh para pihak setelah melakukan perundingan yang dituangkan dalam bentuk tulisan.
d.      Konsep kontrak.
Adalah isi atau materi terdiri dari seluruh unsur kontrak yang akan disampaikan kepada pihak lain untuk dipelajari, didiskusikan, dan diperbaiki untuk dapat dicapai satu pengalian dan permohonan yang sama agar dapat dilaksanakan.
e.       Konsep akhir kontrak.
Adalah hasil perundingan dari konsep kontrak terdiri dari isi atau materi kontrak yang telah disepakati bersama, yaitu satu pengalian dan pemahaman dari seluruh unsure dalam kontrak yang berbentuk dalam wujud berisikan klausula-klausula berikut lampirannya apabila ada.
f.       Penandatanganan.
Adalah pembubuhan tanda tangan pada konsep akhir yang dilakukan sebagai bukti persetujuan terhadap terhadap isi atau materi kontrak untuk dilaksanakan.


Related Post:
loading...